fiction

(Remake) Morning

Author: Chantia Hiruma

Cast: Myungsoo, Suzy

Rating: G

Title: Morning

Inspired by: Memorise – Within Temptation

Sekarang kakiku menapak di jalan sunyi. Menghirup nafas dalam-dalam, dan ternyata tidak banyak yang berubah disini. Pohon-pohon berwarna khas musim gugur masih berjejer kokoh namun rapuh. Mirip sekali dengan apa yang aku lihat dua puluh tahun lalu. Hanya saja, sekarang tiang listrik penyangga kehidupan –itu yang mereka katakan- bertengger telalu banyak, dan agak mengganggu pemandangan pohon yang menakjubkan itu. Jujur saja, jika aku masih muda dan berwujud wonder woman, aku akan mematahkan tiang-tiang sialan itu dan membuangnya jauh-jauh.

Bukannya aku tidak butuh listrik, tapi pohon, jalan, udara, langit, hingga dedaunan yang berjatuhan di jalan ini, jalan yang menuju rumah itu, sangat penting bagiku. Sungguh.

Rumah itu, rumah yang aku tinggalkan dua belas tahun yang lalu. Rumah dimana hatiku tinggal, sejauh apapun ragaku melangkah.

Rumah dimana aku dan dia bersama, sebelum takdir itu menyentuh kami. Takdir yang … terlalu lunak jika dideskripsikan dengan kata kejam. Karena nyatanya, sisa-sisa sayatannya masih bernaung diotakku.

Halamannya cukup luas, ada papan ‘sold out’ disana. Aku tidak tahu siapa yang membeli rumah ini setelah aku meninggalkannya. Tapi yang jelas, onggokan manusia itu bukan jenis manusia yang bertanggung jawab. Dia meninggalkan rumahku –dulu, tapi ini rumah hatiku, seperti yang baru aku katakan- dengan keadaan yang sangat-sangat tidak terawat, bahkan tidak terkunci. Tangan keriputku bisa membuka pintunya dengan mudah.

Okelah jika lorong waktu itu hanya bualan belaka, tapi mari kita jelajahi masaku, masa emasku, masa terindah sekaligus puncak dimana aku harus turun meluncur kebawah, menghantam tanah sekeras-kerasnya. Begitu aku memasuki rumah ini, keriputku perlahan menghilang seperti wanita dewasa –bukan lansia-, rambut putihku berubah menjadi warna hazelnut yang menjuntai indah, mirip seperti dua tiga puluh tahun lalu.

Kursi santai di depan teras itu berubah menjadi kursi putih yang masih mengkilap, dengan satu cangkir jasmine tea dan satu cangkir kopi hitam diatasnya. Perlahan kupu-kupu mulai menggerayangi perutku, aku bahagia. Bayangan dia, suamiku, terlampau jelas sekarang. Tersenyum dengan mata eboninya yang menawan, tajam namun lembut dengan bersamaan.

Tuhan, izinkan aku hidup di dunia delusional untuk saat ini. Namun, jika Kau tanya apa keinginanku, aku ingi hidup disini selamanya.

Dan mungkin di alam dunia, permintaan itu termasuk berlebihan, ya? Maafkan aku.

***

Jin-An, April 1983

                Aku masih mematut bayanganku di cermin, agak sedikit takjub dengan apa yang telah dilakukan si penata rias pada wajahku. Aku belum pernah merasakan secantik ini sebelumnya. Aku menarik ujung-ujung mulutku, membuat senyuman tipis di wajahku. Kuletakkan sepasang tanganku diatas meja rias, lalu menautkan jari-jariku, membentuk semacam kepalan. Aku merasa kegugupan yang amat dahsyat saat ini hingga kedua tangan ini bergetar. Hari ini adalah hari terindah dalam dua puluh satu tahun hidupku, dan kau tahu, harapan seorang gadis yang sedang mematut bayangannya dicermin ini tak lain tak bukan adalah menikah dengan orang yang ia cintai. Yeah, aku menikah dengan pria itu, pria yang sejak beberapa tahun lalu merampas hatiku tanpa aling-aling.

                “Suzy, kau cantik”

Aku terkaget mendengar suara itu. Entah sudah berapa menit aku melamun, aku sampai tidak menyadari kehadiran pria itu disini. Kim Myungsoo. Tubuhnya berbalut tuxedo berwarna perak, yang senada dengan gaun yang aku kenakan sekarang. Saat ia mendekat padaku, ia meraih kedua tanganku yang berbalut sarung tangan beludru. Tangannya meremas jariku, dan matanya menatapku dengan lembut. Namun pemilik mata eboni itu tidak sadar bahwa aku, gadis yang ditatapnya ini, merasa terintimidasi oleh tatapannya. Tatapan itu jantungku berdetak kencang hingga rasanya sakit sendiri. Bibirnya menyunggingkan senyum favoritku, lalu dengan lembutnya, ia berkata, “ Terima kasih kau mau menikah denganku”

Dalam hati aku berkata bahwa akulah yang seharusnya berterima kasih, karena dialah yang aku inginkan lebih dari apapun. Tapi lidahku kelu seolah pita suaraku kehilangan fungsinya. Aku hanya tersenyum dan tanpa disadari mataku mengeluarkan air mata bahagianya. Jempol tangannya mengusap pipiku lembut, mengapus air mataku yang mengalir melewatinya.

                “Kau tahu Myungsoo? Akulah yang sangat bersyukur kau mau hidup denganku.”

****

Aku menyesap Jasmine tea sambil menatap matahari pagi. Ini adalah pagi pertamaku dengannya. Pagi pertamaku menjadi nyonya Kim. Ini adalah musim semi pertamaku dengannya. Aku meletakkan secangkir kopi hitam di meja, hanya untuk berjaga-jaga siapa tahu suamiku bangun dan mau duduk disini bersamaku. Lagipula bunga-bunga cherry yang mekar ini sedang indah-indahnya, sayang sekali jika dia mau melewatkan pemandangan indah seperti ini.

Suamiku, iya, sekarang dia suamiku. Dan ini bukan mimpiku.

Aku merasakan kedua tangan mendekap bahuku, dan aku merasakan kecupan lembutnya di rambutku. Hanya sentuhan sederhana seperti ini saja, kupu-kupu sudah berterbangan di perutku.

                “Pagi, yeobo[1]” ujarnya setelah mengecup puncak kepalaku.

                “Pagi, ini kopimu,” kataku sambil menyerahkan cangkir kopi hitam yang masih sangat panas itu, “Sini duduk!”

                “Terima kasih,” dia berkata sambil tersenyum, lalu perlahan ia menyesap kopinya, “Kopi buatan istri sendiri memang yang paling enak, ya!” ujarnya sambil tersenyum lebar. Sedangkan aku yang ditatapnya hanya tersenyum balik tanpa bisa berkata apa-apa. Perlahan aku merasakan kedua pipiku memanas, dan suamiku itu tertawa. “Kau tahu, wajahmu sangat lucu saat tersipu seperti itu.”

                Kamipun tertawa ringan sambil menikmati pagi yang menakjubkan.

                “Myungsoo ….”

                “Hm?” gumamnya sambil menyesap kopinya lagi.

                “Aku mencintaimu.”

Pria itu terlihat kaget, matanya membulat. Namun beberapa detik kemudian, mulutnya membentuk senyuman lembut, “Aku juga. Aku tahu kau mencintaiku meski kau tidak pernah mengatakannya sebelumnya. Matamu, matamu itu seperti buku terbuka untukku. Ia mengatakan apapun lebih jelas dari apapun”

****

                Inilah pagi yang paling ‘pagi’ dalam hidupku. Pagi indah itu tetap hidup saat dia masih bernafas disampingku. Tapi takdir tidak seindah itu. Ia pergi lebih dulu, dan aku menjalani masa tuaku sendiri. Ini memang salahku, karena saat ia ada, aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa ia akan pergi. Saat ia bersamaku, aku merasa kami akan hidup selamanya, rambut memutih bersama, dan menikmati pagi indah setiap hari.

                “Haelmoni[2]!”gadis berambut pendek berparas manis menghampiriku. Ia mengenakan baju berwarna peach dengan cardigan coklat. Gadis itu berlari kecil sambil tersenyum padaku.

“Ah, Eun Chan! Kau datang cucuku,”

“Haelmoni, sekarang waktunya makan malam. Ayo kita pulang! Ibu memasak samgetyang[3] hari ini,” ujarnya sambil menuntunku berjalan.

“Benarkah? Pasti enak sekali, ya!”

“Iya, lagipula sepertinya malam ini akan dingin sekali, nek!” sahut gadis itu ceria. Senyumnya, entah kenapa itu mengingatkanku pada kakeknya, suamiku.

Myungsoo, tahu kah kau? Cucumu, cucu kita sekarang sudah remaja.

***

 “Suzy, kau membuat siangku seperti pagi. Lelahku selalu hilang saat aku menemukan matamu di depan mataku”

“Myungsoo, matahari pagi di musim semi selalu ada di matamu. Dan itu membuatku semakin hidup”

 


[1] istriku

[2] Nenek!

[3] Sup ayam ginseng khas Korea

Advertisements

14 thoughts on “(Remake) Morning

  1. Thoooorrr……:””))) baguuuuss huhuuu feelnya dapetdeh, ditunggu ya ff-ff myungzy lainnyaaaaa fighting!!

    1. Sebenernya aku suka kyutoria & iu-baekyhun, tp itu dpublish d blog laen, hehehe, mungkin kpn” aku publish dsni ching 😀

  2. Huaaaahhhhh… cediiihhhh. 😦
    Myungsoonya mninggal duluan. 😦
    Suzy setia banget ampe tua masih setia pada suaminya myungsoo walaupun myung dah prgi duluan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s