fiction

I For You [1/2]

iforu-new

Cast:

Luhan’s EXO
Hwa Yuen (OC)

Cameo : Lee Eun Ri (OC), Kris’ EXO

Rating: PG

Luhan mengeratkan hoodie abunya, berusaha masuk ke kedai kopi tempat gadisnya menunggu. Seperti dugaannya, gadis itu duduk di meja samping jendela dengan piring kecil berisi dua maracoon coklat dan secangkir hot chocolate bersamanya. Dan laptop berwarna biru safir yang hampir menutupi setengah wajahnya.

                Pria itu langsung duduk di bangku yang ada tepat dihadapan Hwa Yuen, lalu menegak hot chocolate milik gadisnya itu perlahan tanpa meminta izin pemiliknya terlebih dulu.

                “Jangan dihabiskan,” sahut Hwa Yuen, ia tahu benar siapa ‘penjahat’ yang berpotensi menghabiskan cairan coklat kesayangannya.

Pria itu hanya membalasnya dengan gumaman seolah tidak peduli, lalu mengembalikan cangkir itu ke piring kecil yang menopangnya.

Tak lama kemudian, gadis dihadapannya tersenyum aneh ke depan laptopnya sambil sesekali melirik wajah kekasihnya yang tak kunjung menua itu.

                “Aku bangga padamu, Xi Luhan! Huahahaha~,” tiba-tiba saja suara tawa meledak dari mulut gadis itu. Tak ayal hal itu membuat Luhan tertawa juga meski ia kebingungan. Yeah, suara tawa gadis ini yang menular memang selalu membuat Luhan tertawa tanpa sebab.

                “Kenapa? Harusnya kau bangga dari dulu, bodoh!” elaknya sambil menjitak kepala pacarnya pelan.

                “Bukan, bukan karena kau anggota boyband terkenal! Tapi ini!” gadis itu membalikkan laptopnya. “Lihat, fanfiksi KrisHan buatanku menjadi juara dan mendapatkan review terbanyak!” ujarnya senang. Sedangkan pria dihadapannya hanya menatap gadisnya nanar. Sekarang ia merasa menjadi korban dari kekejaman imajinasi kekasihnya.

                “Mereka bilang kau itu uke sejati! Hahaha, karena itulah aku bangga padamu!” sambung gadis itu, masih dalam keadaan bahagia tanpa peduli keadaan kekasihnya yang … galau. Yeah, galau. Mana ada pria yang tidak galau jika ia dipuji sebagai ‘uke sejati’ oleh kekasihnya sendiri? astaga!

Kalau boleh jujur, Luhan ingin sekali meneriaki gadisnya untuk berhenti menjadi fujoshi dan sekali-kali pujilah ia dengan hal yang sedikit masuk akal. Tapi melihat tawa dan senyuman gadis itu, Luhan mengurungkan niatnya dan hanya bisa menghela nafas seakan pasrah.

Apa sebegitu mempesonakah Hwa Yuen sampai-sampai Luhan seperti ini? mungkin iya.

                “Lomba sialan itu hadiahnya apa?” tanyanya setengah tidak minat sambil mengambil satu macaroon milik kekasihnya.

                “Jangan marah begitulah Luhan! Kalau kau marah wajahmu malah tambah imut,” ujar Hwa Yuen datar sambil membalikkan lagi laptopnya ke posisi sebelumnya. Kerutan di dahi Luhan makin banyak. Sudah cukup menjijikan ia dibilang ‘uke sejati’ sekarang dibilang ‘imut’? kapan gadis ini berhenti menyiksannya? Asal kau tahu saja ya, kata imut terdengar sangat menjijikan bagi pria yang sudah menginjak umur 23 tahun sepertinya.

                “Oiya, hadiahnya … satu CD album exo terbaru, dan dua lightstick. Bagaimana? Keren kan hadiahnya?”

Kening Luhan berkerut lagi, “ Ya! Bukankah aku sudah pernah memberimu CD itu kemarin?”

Gadis itu memutar kepalanya keatas seolah sedang mencari file di otaknya, “Oh ya? Aku lupa!”

                “Dasar!” Luhan menyesap green tea vanilla miliknya lalu menatap gadisnya yang pelupa itu, “Minggu kemarin aku memberikannya padamu, kau ingat?”

                “Ya sudah kalau aku sudah punya,” sahut gadis itu sambil menyambar handphone dari tasnya, “CD dari hadiahnya aku jual saja. Kebetulan Eun Chan bilang dia ingin sekali CD itu!”

Saat kekasihnya sedang sibuk menelpon temannya dan mendadak jadi tukang dagang, Luhan menyesap lagi green tea vanilla miliknya sambil menatap gadis itu lekat-lekat. Yeah, dia hanya berusaha mengingat detil wajah gadis itu. Beberapa hari lagi ia harus terbang ke luar negeri … dan meninggalkan gadis ini sendirian di negeri orang cukup mengerikan sebenarnya.

***

                Hwa Yuen sampai di apartemennya saat langit mulai gelap. Malam musim dingin di Korea memang selalu lebih dingin daripada di Qiang Dao, kota kelahirannya. Luhan sempat memaksa untuk mengantarnya, namun melihat member lain sedang sibuk latihan, jadi dia memutuskan untuk pulang sendiri. Yeah, tadi sepulang dari kedai kopi, Luhan menyeret gadis itu ke tempat latihannya. Sebenarnya ia senang-senang saja saat Luhan membawanya kesana, mengingat disana ada sosok jangkung favorit Hwa yuen –kedua setelah Luhan, Kris. sosok seme sejati di mata Hwa yuen itu sempat melemparinya senyum lalu melangkah terburu-buru keluar ruangan. Saat ia menanyakan kenapa, Luhan dengan santainya bilang ‘Paling dari PD,’. Kata-kata itu cukup membuat Hwa Yuen mengangguk paham dan berhenti bertanya. Mereka semua – member EXO plus Hwa Yuen tahu benar bagaimana watak si PD itu – Lee Eun Ri.

                Gadis berambut bergelombang itu mengeratkan coat hitamnya, lalu berjalan tergesa di sepanjang koridor apartemennya. Ia terus menggesekkan kedua telapak tangannya untuk mendapatkan sedikit hangat. Hwa Yuen merasa kedinginan yang aneh … maksudnya ia tahu cuaca sangat dingin, tapi dingin ini sampai membuat giginya gemeletukan. Gadis itu menghela nafas keras saat otak pelupanya teringat akan sesuatu yang membuatnya sebal setengah mati. Tugas. Tugas kuliahnya yang harus dikumpulkan besok. Well, ia memang sudah mengerjakan setengahnya, namun ia sama sekali tidak berminat untuk mengerjakan apapun sekarang. Bahkan untuk menyeret kakinya sekarangpun rasanya berat sekali.

                Saat ia bermaksud membuka kunci apartemennya, tidak sengaja kakinya menendang sebuah dus berwarna putih. Kotak itu sebesar kotak sepatu. Merasa penasaran dengan apa isi didalamnya, gadis itu memutuskan untuk membawanya kedalam. Dalam hati ia berdoa siapa tahu isinya makanan atau apapun yang sekiranya bisa dimakan karena perutnya mulai meronta.

Ia melepas sepatu coklatnya – setengah menendangnya agar cepat copot, lalu segera duduk bersila di karpen berbulu berwana putih gading kesayangannya. Diatasnya ada banyak komik, novel, buku-buku tugas yang berserakan dan meja kayu kecil yang biasa ia gunakan untuk makan ataupun belajar. Ini surga kecilnya. Surga kecil yang selalu membuat Luhan memekik marah karena memang tidak ada rapihnya sama sekali.

Perlahan Hwa Yuen menaruh kotak putih itu diatas meja, lalu membukanya. Bukan makanan ataupun barang hadiah seperti harapannya, tapi secarik surat dengan noda darah dimana-mana dan boneka yang nyaris tidak jelas lagi bentuknya. Boneka itu memiliki rambut bergelombang – mirip seperti rambut Hwa Yuen, dan iapun dilumuri oleh darah. Tangan kanannya sudah tidak ada, sebelah kakinya nyaris putus, dan bajunya sobek. Di dalam kotak itu juga ada foto Hwa Yuen yang dimana bagian wajahnya dicoret-coret oleh pulpen sehingga tidak terlihat lagi.

                ‘Jika kau terus begini, aku jamin nasibmu sama seperti boneka ini. gadis Cina.’

Tanpa banyak berpikir lagi, Hwa yuen langsung membuang kotak itu beserta isi-isinya ke tong sampah di dapurnya. Perutnya yang beberapa menit lalu berteriak lapar sekarang mendadak kenyang. Hanya ada rasa takut yang menjalar disepanjang urat nandinya saat ini. Darah di kepalanya juga seakan turun langsung ke kakinya. Keringat dingin yang sedari tadi memenuhi tengkuknya terasa semakin banyak. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur dan menggulung badannya dengan selimut tebal,alhasil rupanya sekarang tak ubahnya seperti roti gulung.

                Bayangan tugas yang belum ia selesaikan masih ada di pikirannya sekarang, namun rasa takut, pusing, dan kantuk yang menjalar menghilangkan minatnya untuk mengerjakan tugas sialan itu. Menjadi mahasiswa yang menggantungkan nasib akademiknya dari beasiswa memang menyebalkan.

***

                Langit musim dingin masih kelabu seperti biasanya. Dan … hari ini juga merupakan hari yang menyebalkan untuk Luhan. Pria itu mulai membereskan barang-barangnya sekarang untuk keberangkatannya nanti ke Bangkok. Berkali-kali ia menatap handphonenya, berharap bahwa gadisnya akan menghubunginya meski hanya basa-basi tentang cuaca atau apalah. Memang sejak gadis itu pulang kemarin perasaan Luhan sudah tidak enak. Ia merasa … ia tidak seharusnya meninggalkan gadis itu dan pergi ke luar negeri besok. Untuk alasan yang ia sendiri tidak tahu, ia ingin terus bisa menatap manik gadis itu seharian penuh. Memang Luhan sering merasa seperti itu, tapi tidak ‘semenyeramkan’ sekarang. Akhirnya ia menyambar handphonenya juga dan memutuskan untuk menelpon gadis itu.

                “Hallo? Hwa Yuen?”

                “Hallo … ada apa?” terdengar suara serak dari sebrang sana. Hal itu tentu saja membuat perasaan Luhan makin tidak enak.

                “Hallo? Luhan? Kau mau bicara apa? Cepatlah … aku ngantuk,” ujar gadis itu.

                “Memangnya kau tidak ke kampus sekarang?”

                “Aku flu, lagipula udara terlalu dingin di luar. Tugasku pun belum aku selesaikan. Jadi, aku bolos, hehehe~” ujar gadis itu datar dengan suara datarnya. Suara tawa anehnya terkesan dipaksakan sebenarnya.

                “Kau kenapa?”

                “Hm? Aku flu! Kau tuli ya?”

                “Sekarang aku kesana,”

                “Apa?”

***

                “Hai,” Hwa Yuen membukakan pintu flatnya dengan selimut tebal yang masih membungkus tubuhnya. Sesekali ia terbatuk, lalu duduk di karpet kesayangannya. Luhan mengikuti gadis itu dan ikut duduk disampingnya, lalu menyerahkan bungkusan kertas berisi obat-obatan dan vitamin yang tadi ia beli di apotek.

                “Gomawo,” ujar Hwa Yuen serak. Luhan menatap gadisnya lekat. Ia tahu gadisnya flu, tapi ia tidak mengira gadisnya akan sepucat ini. Hwa Yuen mengeratkan selimutnya sambil menyenderkan kepalanya diatas meja kecilnya. Luhan mencoba menyalakan pemanas di sebelahnya, tapi benda kotak itu tidak kunjung menyala.

                “Pemanasnya rusak,” sahut Hwa yuen dengan mata terpejam. Mungkin karena ia mendengar suara saat Luhan berusaha menyalakannya. Saat gadis itu bernafas, Luhan baru menyadari bahwa asmanya kambuh. Ia langsung masuk ke kamar Hwa Yuen dan mengambil inhaler yang selalu ada di tas milik gadis itu.

                “Kau baik-baik saja ‘kan?” Luhan tidak mampu menyembunyikan kekhawatirannya. Gadis itu hanya menjawabnya dengan gumaman lalu menghirup inhalernya.

                “Aku hanya ngantuk, kau pulang saja sana~” Hwa Yuen menepuk-nepuk pundak Luhan dan menyuruh pria itu kebali ke Dormnya karena ia tahu benar bahwa pria dihadapannya ini memang sedang sibuk-sibuknya.

                “Kita ke dokter sekarang. Pake coatmu!” pria itu melemparkan coat hitam milik Hwa Yuen yang sedari tadi menggantung di gantungan yang terletak di pinggir pintu.

                “Bagaimana jika aku tidak mau?”

                “Aku akan menyeretmu. Cepat!”

Hwa Yuen hanya bisa mengerut sebal melihat tingkah Luhan. Hah, pria itu memang selalu khawatir berlebihan jika menyangkut dirinya.

***

                “Jadi ini yang kau bilang tidak apa-apa?” Luhan mengeluarkan senyum tipisnya. Sedangkan objek yang ditanya malah senyum-senyum tidak jelas dengan tangan yang dihiasi infusan.

                Ternyata yang dibilang tidak apa-apa oleh Hwa yuen adalah alergi dingin yang menyebabkan asmanya kambuh, dan tekanan darahnya rendah. Entah apa yang akan terjadi pada gadis itu jika Luhan terlambat menyeretnya ke rumah sakit.

                “Setidaknya aku ‘kan masih hidup,” sahut Hwa Yuen datar sambil menekan-nekan jadi lentiknya di handphone touch screen miliknya. “Hei, Luhan! Karena aku sakit … bisakah kau melakukan sesuatu untukku?”

                “Apa?”

                “Bisakah kau panggilkan Kris gege kesini?”

                Luhan mengangkat sebelah alisnya, “Ada modus apa lagi sekarang?”

                “Ayolaah Xi Luhan! Aku kan sedang sakit.” Tangan kanan gadis itu memegang tangan Luhan yang sedari tadi bersender di kasur rumah sakit itu. “Lagipula aku tidak berniat selingkuh kok!”

                “Kalau itu aku sudah tahu!”

                “Bawa saja Lee Eun Ri bersamanya! Dia pasti akan kesini. Ya ya? Please?”

                “Baiklah, tapi kau harus berjanji kalau kau akan menghabiskan bubur dan susu ini. arachi?”

                “Tapi ‘kan aku mual, Luhan!”

                “Makan bubur dan minum susunya, atau aku tidak akan membawa Kris kesini? Mau yang mana?”

Hwa Yuen merengut. Kapan sih Luhan berhenti jadi seorang pemaksa? “Iya, iya aku makan! Kau puas?!”

Melihat kekasihnya memakan bubur sambil mengeryit sebal, Luhan tersenyum senang karena ia merasa menang, tentu saja. Berkali-kali mulut gadis itu mengembung menahan mual. Tapi karena ancaman Luhan, Hwa Yuen berusaha keras menelan semua bubur yang masuk ke mulutnya.

                “Pastikan kau baik-baik saja hingga aku kembali, Hwa Yuen.”

                “Tentu, tentu, kau tenang saja!” sahut gadis itu dengan senyum yang dipaksakan. Kalau boleh jujur, ia ingin sekali menangis karena rasa mual yang ia alami sekarang. Tapi ia masih berusaha menahannya. Ia tahu bagaimana reaksi pria itu jika ia melihat Hwa Yuen muntah-muntah. Mungkin saja ia akan memanggil dokter, memintanya untuk beristirahat lebih lama, dan akhirnya gadis itu akan mati karena bosan. Yeah, Hwa Yuen tidak sebodoh itu.

                “Oiya, kenapa kau tidak menelponnya saja sekarang?”

                “Ada sesuatu yang ingin ku bawa untukmu di Dorm. Tunggu ya, sayang~”

Hwa Yuen hampir saja menyemburkan susu yang diminumnya,” Jangan panggil aku seperti itu! menjijikan!” teriaknya. Sedangkan objek yang diteriaki hanya tertawa renyah sambil menutup pintu kamar itu.

***

                “Kris, Hwa Yuen ingin kau menjenguknya tuh!”

Kris mengangkat sebelah alisnya, “Memangnya dia sakit apa?”

                “Ternyata gadis itu bisa sakit juga,” celetuk Eun Ri. Mengingat gadis itu selalu ceria dan terkadang tertawa seperti serigala, memang wajar jika orang-orang disekitarnya heran saat ia jatuh sakit.

Kris mengagguk setuju, “ Yeah, kau benar. Jadi, kapan kita kesana?” sahut Kris pada Luhan. “Yak! Eun Ri, kau mau ikut?”

                “Tentu saja, jadi aku bisa menempeleng kepalanya jika ia meminta yang aneh-aneh,” sahut Eun Ri datar tanpa memperdulikan disana ada Luhan.

                “Kau tenang saja, dia tidak akan meminta yang aneh-aneh dari Kris. Paling-paling ….”

                “Paling-paling dia meminta kalian melakukan salah satu adegan di fanfic yaoi favoritnya.” Sahut Eun Ri cuek sambil merapihkan coat salemnya. “Mungkin aku harus bersiap-siap melihat kalian berciuman, hahaha~” gadis itu berjalan keluar ruangan sambil tertawa renyah, meninggalkan dua laki-laki yang diam-diam berharap bisa mencekiknya sekarang.

                “Luhan, apa Hwa Yuen segila itu?”

                “Iya, bisa jadi.”

Kris menelan salivanya, tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri. Ketakutan.

***

                “Astaga, mereka romantis sekali!” Hwa yuen tidak bisa berhenti mengagumi fanfic KrisHan yang ia baca sekarang. Alurnya mengalir dengan rancang, dan fluffy sekali!

Namun saat sedang asyik-asyik membaca, ia mendapati seorang suster dengan wajah yang ditutupi masker menghampirinya.

Suster itu menghujamnya perutnya dengan pisau. Hwa yuen terkejut, ia hanya bisa menatap si pelaku tanpa berkedip. Lidahnya seakan kelu, sama sekali tidak bisa berteriak. Tangan kanannya berusaha menahan pisau yang dihujamkan ke perutnya, namun nihil. Si suster gadungan itu menekan pisau itu lebih dalam, dan itu membuat Hwa Yuen kehilangan kesadarannya.

Rasa sakit ini begitu mengoyaknya. Ia merasa … mungkin ini rasanya nyawamu dicabut.

***

                Eun Ri berjalan lebih cepat daripada kedua pria itu. Lalu ia membuka pintu kamar tempat Hwa Yuen dirawat.

                “Ternyata gadis seperti kau bisa sakit juga ya Hwa ….”

Suara teriakan Eun Ri sontak membuat Kris dan Luhan berlari menghampirinya. Mereka bertiga mendapati Hwa Yuen tidak sadarkan diri dengan perut yang penuh darah. Tangan kanannya yang kecil berlumuran darah juga. Eun Ri yang melihatnya langsung menangis histeris dan ia memeluk Kris erat. Air mata gadis itu membasahi kaus hitam Kris. Sedangkan Kris sendiri … ia hanya bisa terbelalak tidak percaya.

Jangan kau tanya bagaimana keadaan Luhan sekarang. Pria itu hanya mematung ditempatnya sekarang dengan mata yang tak berkedip. Perlahan buliran bening menyeruak dari balik pelupuk matanya. Ia mendekati gadis itu, memegang jemarinya yang berlumuran darah.

                “Sudah kubilang … baik-baiklah hingga aku kembali. Gadis bodoh,” ujarnya parau. Beberapa detik kemudian ia berlari ke luar ruangan dan menyeret dokter beserta suster-susternya (yang menurut Luhan sama sekali tidak berguna karena mereka tidak bisa menjaga gadisnya) dan lama kemudian, mereka membawa gadis itu ke ruang ICU.

Luhan, Kris dan Eun Ri terpaksa menunggu diluar ruanganan. Melihat betapa syoknya Eun Ri, Kris memutuskan untuk mengantarnya pulang. Namun ia berjanji untuk kembali dan menemani Luhan disini. Luhan hanya mengangguk lemah dengan dahi yang ditopang oleh jemari yang saling mengait.

                “Bagaimana aku bisa meninggalkanmu sendirian di negara jika keadaanmu seperti ini Hwa Yuen?” gumamnya tak jelas. Ia bermonolog dengan suara paraunya. Luhan hanya bisa merunduk dalam, dan cairan bening sialan itu keluar lagi dari pelupuk matanya. Kau tahu? Hanya Hwa yuen yang bisa membuatnya hancur seperti ini.

-c-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s