Uncategorized

I for You [2/2]

EXO-Member-Profile-Luhan-tile

 

Cast:

Luhan’s EXO

Hwa Yuen (OC)

cameo:

Kris’ EXO

D.O’s EXO

I for you [2/2]

                Pria itu terus berkonsentrasi pada kamera yang dipegangnya. Tadinya ia ingin menunjukkan hasil jepretannya pada gadis itu. ia ingin menunjukkan wajah-wajah konyol gadis itu yang berhasil ditangkap kamera Luhan.

ryu hye ju 1

tumblr_m40fb4hvrB1rw5enso1_500

Ia ingin melihat wajah Hwa Yuen yang marah dan berteriak-teriak padanya. Hahaha, terdengar masokis ya? Tapi tidak. Luhan berpikir jika gadis itu marah-marah dan berteriak padanya lebih baik daripada melihat gadis itu tertidur lemas di atas kasur rumah sakit dengan nafas yang agak tertahan. Apalagi melihatnya seperti tadi … dengan perut yang terkoyak dan wajah yang pucat sepucat mayat, rasanya terlalu menyeramkan untuk matanya     . 

                “Hei,” Kris mendatanginya setelah mengantar Eun Ri pulang. Ia menyodorkan kopi panas yang dibeli dari vending machine, dan Luhan hanya bilang terimakasih tanpa suara.

                “Luhan,”

                “Hm?”

                “Apa besok kau akan tetap pergi ke Bangkok?”

Mendengar pertanyaan Kris, sontak membuat jemari Luhan yang sedari sibuk dengan kameranya membeku seketika. Luhan meletakkan kameranya perlahan, lalu menarik nafas dalam. Sejujurnya ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia ingin sekali berada disini terus dan menemani gadis itu hingga ia sadar. Tapi ia sudah terikat pekerjaan, dan jika ia tidak ikut ke bangkok, maka grupnya akan hancur nanti. Dengan absennya dia, maka grup harus merubah koreografi. Jelas, hal itu tidak bisa dilakukan dalam waktu satu hari.

                “Aku tidak tahu ….” Luhan menyesap kopinya. Rasa pahit yang bercampur dengan manisnya gula perlahan tenggelam di mulutnya. “Mungkin ini sebabnya kenapa manager Hyung melarang kita berpacaran, iya ‘kan?”

Kris merasa pertanyaan seperti itu tidaklah harus dijawab, jadi ia membiarkan pertanyaan bodoh itu mengambang di udara, “Kau sendiri tahu ‘kan apa yang harusnya kau lakukan. Lagipula, aku dengar Hwa Yuen punya teman akrab ‘kan? Aku pikir dia bisa membantumu menjaga gadis itu untuk dua hari,”

Seketika mata Luhan membulat. Ia teringat dengan gadis Korea berambut ikal yang tempat tinggalnya bersebelahan dengan flat Hwa Yuen, “Eun Chan. Ya, mungkin aku akan mencoba menelponnya sekarang.”

***

                “Eun Chan, maaf merepotkanmu. Aku ….”

                “Sudah diam, Luhan. Hwa yuen ini seperti adikku sendiri. jadi kau berangkat saja, aku akan menjaganya untukmu.”

                “Tapi kau terdengar kesal, Eun Chan.”

                “Ya! Anak bodoh! Bagaimana aku tidak kesal? Kau terlambat memberitahuku!” teriak Eun Chan dari seberang sana. Mau tidak mau Luhan terkikik mendengar teriakan cempreng gadis itu yang tak ubahnya seperti ahjumma.

                “Baiklah, aku berangkat. Kalau ada apa-apa tolong beritahu aku!”

***

                Eun Chan memperhatikan Hwa yuen yang tengah terbaring di balik kaca setebal 3 cm. Selang-selang penopang hidup seolah membelit gadis itu. alat pendeteksi detak jantung yang Eun Chan tidak tahu namanya memperlihatkan kondisinya jantungnya sekarang. Sebenarnya Eun Chan masih merasa bahwa ia sedang bermimpi. Yang ia tahu gadis itu selalu membawakannya makanan , membantunya mengerjakan pekerjaannya yang biadab, dan terkadang juga ia selalu menyeret Eun Chan ke toko buku hanya untuk mengecek sudah rilis atau belum manga seri favoritnya. Dan jika mereka berdua sudah menonton reality show, maka mereka berdua akan tertawa seperti serigala.

Oiya, satu hal lagi. Mereka sama-sama fujoshi, dan mereka bangga akan itu.

                “Yuen-a, kau bercanda ‘kan? Ayo cepat bangun! Bercandamu sama sekali tidak lucu, Hwa yuen!” gadis itu terisak sambil menepuk-nepuk tebal itu.

Di lain tempat, pria berambut pink itu sedang menyeret kopernya, bersiap meninggalkan tanah Korea untuk dua hari. Pria itu memakai kacamata besar dan earphone ditelinganya. Namun meski telinganya dipenuhi oleh lagu, pikirannya sama sekali tidak bisa diarahkan pada lagu itu. otaknya seakan dipenuhi bayangan hwa yuen dan hatinya digandrungi rasa khawatir yang terkadang menyesakkan. Untuk itulah, terkadang ia memukul-mukul dadanya sendiri sambil memasang ekspresi dinginnya. Menyadari ekspresinya yang bisa saja menimbulkan masalah, ia memakai Masker berwarna coklat yang sedari tadi ia kantongi di jaketnya. Lagi-lagi hatinya teriris sedikit. Masker ini … masker yang pernah ia pakaikan ke Hwa Yuen.

***

                “Ayo kita keluar!” Luhan mulai menggengam tangan Hwa Yuen, bermaksud menyeretnya keluar.

                “Yak! aku sedang dihantui tugas biadab dan kau malah menyeretku main! Kau mau aku mati?”

                Pria itu menatapnya tajam, “Semarah apapun kau padaku, jangan pernah menyebutkan kata mati.” Luhan melepaskan genggamannya dengan paksa lalu duduk kembali di karpen berbulu itu.

Melihat Luhan yang marah, tiba-tiba Hwa yuen merasa takut. Ia takut pria dihadapannya ini meninggalkannya dan mendapatkan wanita yang lebih segala-galanya dibanding dia.

Karena memang seharusnya begitu.

                “Maaf,” hanya itu yang bisa Hwa Yuen ucapkan. Sebelumnya ia tidak pernah takut kehilangan seseorang, dan sekarang ia bingung apa yang harus ia lakukan. Sebagai permintaan maaf, ia mendorong piring kecil berisi puding coklatnya ke arah Luhan.

Luhan terlihat bingung, “ini untukku?”

                Hwa yuen membalasnya dengan gumaman, “Ya.” Sahutnya singkat. Gadis itu kembali berkutat dengan tugas kuliahnya. Namun setelah beberapa detik, ia memutuskan untuk menutup bukunya. Ia menyambar jaket yang sedari tadi tergeletak dibelakangnya, lalu berdiri. “Ayo!”

                “Kau yakin mau pergi?” sahut luhan ragu.

                “Bukankah tadi kau yang mengajakku? Kita akan kemana?”

Luhan tersenyum, rasa bahagia sama sekali tidak bisa ia sembunyikan, “Pakai ini!” ujarnya sambil melempar sebuah masker berwarna coklat pada gadis itu.

                “Masker? Untuk apa? Aku tidak flu~”

Luhan tersenyum, “Kau tetap terlihat cantik meski kau memakainya, percayalah padaku.”

Seketika wajah Hwa Yuen memanas, lalu mendelik tajam padanya, “Modus pemaksaan terbaru, eh? Iya, iya aku pakai!”

                “Sini, aku pakaikan!” Luhan memakaikan masker Hwa Yuen. Menyadari jarak mereka semakin tipis, Luhan langsung menempatkan kedua tangannya di saku jaket.

Mata itu … membuat Luhan merasa semakin hidup. kenapa? Karena setiap ia melihatnya, jantungnya akan berteriak gusar.

Mulut Hwa yuen cemberut dibalik masker. Luhan -yang masih merasakan debaran jantungnya menggila -hanya terkikik pelan lalu mengacak-acak rambut gadis itu.

 

Saat mereka membuka pintu, Hwa yuen baru menyadari kenapa Luhan menyuruhnya memakai masker.

***

               

                “Kris, kau tahu? Aku selalu iri padamu,” gumam Luhan. Mereka sedang berada di pesawat sekarang, dan tinggal beberapa menit lagi pesawat itu mencapai langit thailand.

                “Apa? Iri?”

                “Yuen selalu memanggilmu dengan embel-embel ‘gege’, tapi tidak padaku. Padahal jelas-jelas aku lebih tua daripada kau!”

Kris tertawa pelan, “Mungkin itu resiko memiliki wajah yang tidak pernah tua,” gumam Kris datar, tidak memperdulikan Luhan yang tengah mendelik tajam padanya.

                “Entahlah, tapi aku merasa kau tertular sifat menyebalkan dari kekasihmu itu, Kris,” timpal Luhan tak kalah datar.

                “Hm, aku rasa juga begitu,” Kris mengambil jus jeruk yang ditawarkan pramugari lalu berkata terima kasih tanpa suara padanya. “Aku malah khawatir kau akan tertular menjadi fujoshi juga. Kalau itu terjadi, jangan pernah menyukaiku!”

                “Bocah gila!”

***

From: Luhan

Bagaimana keadaannya?

                Eun Chan berdecak sebal mendapati pesan dari Luhan. Ayolah, ini sudah kedua puluh kalinya ia mengirimi pesan seperti ini. di tigakali pertama Eun Chan membalasnya dengan santai ‘Dia belum sadarkan diri, masih dalam kondisi kritis.’ Tapi untuk ke empat dan seterusnya? Ia hanya mendiamkannya saja. Toh nanti juga kalau Hwa yuen sudah sadarkan diri dan lepas dari masa kritisnya ia akan mengiriminya pesan pada Luhan. Atau kalau perlu, ia akan menelponnya. Soal tagihan internasional nanti ia tagih pada Luhan sepulang dari negeri gajah putih itu.

                “Yuen-a, apa pacarmu itu selalu mengesalkan seperti ini? aku kira hanya kau yang membuat masalahnya ….” gumam Eun chan pada gadis yang terbujur kaku di hadapannya. Baru dua hari gadis ini di rumah sakit, namun Eun chan dapat melihat berat badan gadis ini turun. Ya, dia bisa melihat dari pipi gadis itu. kalau biasanya pipinya chubby, sekarang cenderung tirus dan pucat. Menyeramkan.

                “Hei, kapan kau sadar? Aku sudah membeli anime terbaru dan aku juga mendapatkan fanfic sebasciel kesukaanmu. Atau kau mau fanfic krishan? Aku sudah menandainya di laptopku dan kau tinggal membacanya.” Tanpa disadari suara Eun Chan mulai parau. Mungkin gadis ini baru dua tahun tinggal bertetangga dengannya, namun kebaikan Yuen sama sekali tidak bisa diabaikan. Eun Chan yang sebelumnya selalu makan yang serba instan, sekarang mulai makan makanan yang bergizi semenjak Yuen selalu memberinya makanan atau memasakkan masakan untuknya. Dan … kau tahu? Sangat sulit menemukan teman yang ‘sama gilanya’ dengan Eun chan. Banyak dari teman-temannya menjauhinya karena hobinya yang dibilang aneh. Eun chan bukan orang yang senang berbelanja, keluar dan karokean. Dia tipikal orang yang senang dirumah dan tertawa gila saat menonton acara kesukaannya. Sedangkan Hwa yuen? Ia  juga lebih senang dirumah, menghabiskan waktunya untuk membaca komik, novel, menonton anime, dan menonton reality show kesukaannya. Menemukan manusia seperti Hwa Yuen serasa bertemu dengan kembarannya sendiri (meskipun wajah mereka jauh berbeda).

To: Luhan

Ternyata kau mengesalkan ya, Luhan!
Gadis itu masih dalam kondisi kritis. Sama seperti apa yang aku katakan padamu sebelumnya.
Aku akan memberitahumu jika ia sadarkan diri nanti. Kau tenang saja.

***

                “Hyung, apa hanya perasaanku saja atau kau memang sedang banyak pikiran?” sahut Kyungsoo di backstage.

                “Hm?” Luhan tidak langsung menjawabnya, ia meneguk air mineral botolan yang dipegangnya dulu, “Kau tahu gadis yang selalu aku bawa ke dorm?”

                “Gadis Cina itu ya? Dia cantik. Memangnya kenapa Hyung?”

Luhan mendelik tajam pada Kyungsoo. Ia tidak suka gadisnya dipuji cantik oleh orang lain, entah kenapa.

                “Yak! Hyung! Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Luhan menghela nafas, “Tidak, tidak apa-apa ….”

                “Lalu kenapa dengan gadis itu? kau menyukainya ya?”

Luhan tertawa pelan. Apa dia memang buku terbuka ya? Semua orang disekitarnya bisa dengan mudah membaca pikirannya. Buktinya Kyungsoo bisa tahu kalau Luhan menyukainya tanpa tahu kenyataan bahwa Hwa yuen memang kekasihnya. “Kalau itu sudah jelas,” sahutnya enteng.

                “Lalu kenapa kau melamun terus?”

                “Kyungsoo, apa menurutmu aku kejam?” Luhan tidak lantas menjawab pertanyaan Kyungsoo.

                “Hah?”

                “Saat seseorang disana sedang berjuang agar tetap hidup, aku disini menari, menyanyi dan tertawa. Apa kau kira itu tidak kejam?”

                “Tapi ini pekerjaanmu, jadi aku kira kau sama sekali tidak layak disebut kejam.” Sahut Kyungsoo kalem, “Lalu siapa yang berjuang hidup sekarang?”

                “Nae yeojachingu”

                “Nde?”

***

                To: Luhan

Dokter bilang dia koma, Luhan.
kau dimana? Aku dengar orang yang sedang koma bisa mendengar orang yang mengajaknya bicara. Aku pikir akan lebih baik jika kau datang.

Luhan yang sedang di langit Thailand sedang dalam perjalanan menuju Beijing sekarang. Ia masih memikirkan pesan singkat yang dikirimkan Eun Chan tadi. yang ia tahu, sekarang harusnya ia kembali ke Korea, namun managernya bilang sekarang EXO harus langsung pergi ke Beijing. Ia ingin marah, menonjok managernya, menghajar semua orang yang menghalanginya ke Korea. Namun ia tahu benar bahwa hal itu hanya bisa memperkeruh suasana. Jadi, dengan perasaan yang berat dan pikiran yang tinggal di Korea ia terbang ke Beijing.

                “Luhan, apa kau sudah dapat kabar tentang Hwa Yuen?” sahut Kris.

Pria yang sedari tadi fokus pada jendela pesawat itu menoleh dengan malas, “Dia Koma Kris,”

                Kris membulatkan matanya, “Apa? Kau bercanda ‘kan?”

                “Kau pikir aku masih ada minat untuk bercanda di saat seperti ini?” desis Luhan. Oke, ini waktunya Kris mundur teratur. Ia tidak mau namja imut itu tiba-tiba menghajarnya karena ia terlalu banyak bertanya.

                “Oiya, berapa hari kita di Beijing?” lanjut Luhan.

                “Dua hari.  Sehari kita latihan, sehari lagi kita tampil dan setelah itu kita pulang ke Korea,”

Luhan membalas ucapan Kris dengan helaan nafas yang panjang seperti orang yang sudah lama menahan nafas. Ia kesal pada semua ini. ia kesal pada pekerjaannya, dan siapapun itu mahluk yang berani melukai gadisnya.

                “Ngomong-ngomong, apa yang akan kau lakukan jika kau menemukan pelakunya?”

                “Membunuhnya,”

                “Jika itu fansmu, kau akan membunuhnya?”

Luhan justru mengeluarkan senyuman aneh saat Kris menanyakan hal itu padanya, “Tanpa aku suruh pun, ia akan membunuh dirinya sendiri.”

****

2 hari kemudian

Sesampainya di Korea, tanpa berpikir ia langsung mendatangi rumah sakit dimana Hwa Yuen di rawat. Ia menyerahkan kopernya pada Kris, dan meminjam pakaian managernya untuk penyamaran.

Saat ia sampai di koridor, ia mendapati Eun Chan sedang berdiri menatap kaca. Kaca yang dibaliknya terdapat gadisnya. Yeah, gadisnya. Belum sempat ia menyapa Eun Chan, pandangannya sudah terkunci duluan pada pemandangan yang ada di balik kaca itu.

                “Kapan dia sadar?”

                “Aku tidak tahu,”

Hening lagi.

                “Kau mau ke dalam? Sekedar mengajaknya bicara mungkin ….”

                “Tidak.”

                “Eh?”

Luhan mengalihkan pandangannya dari kaca itu,dan beralih menatap Eun Chan. Orang yang berjasa dalam menjaga gadisnya selama ia pergi.

                “Kau memegang kunci flatnya Eun Chan ‘kan? Boleh aku pinjam?”

Karena jika aku ke dalam sekarang, mungkin aku akan menangis seperti anak kecil. Dan itu memalukan jika ada orang lain selain yuen yang melihatku.

***

                Luhan menelusuri flat tempat gadis itu tinggal. Ia tinggal di puncak gedung itu, sehingga Luhan bisa merasakan dinginnya angin musim dingin yang seolah menampar pipinya saat ia berusaha membuka pintu. Saat ia menutup pintu, yang mengejutkan suhu di luar dan di dalam tidak jauh berbeda. Mungkin karena pemanas di ruangan ini tidak berfungsi. Luhan meringis saat membayangkan gadisnya tidur,makan dan mengerjakan tugas di ruangan sedingin ini. Pantas saja ia bisa ambruk, pikirnya.

Pria itu mengecek lemari es dan lemari-lemari kecil yang menggantung di dapurnya. Dan yeah, kosong. Di kulkas hanya ada beberapa toples Kimchi dan air es. Di lemari kecil, ia mendapati beberapa mie instan dan selai cokelat. Kalau asupan gizinya seburuk ini, bagaimana mungkin gadis itu tak jatuh sakit seperti sekarang? Pria itu hanya bisa geleng-geleng kepala setelah menggeledah dapur.

Sebenarnya gadis itu memiliki kemampuan yang harus diacungi jempol dalam hal masak-memasak. Namun, jika ia terlalu sibuk, ia memikirkan segala hal – selain urusan yang membuatnya sibuk itu – secara instan. Misalnya, makanan. Jika ia pikir beberapa minggu kemudian ia akan sibuk, maka ia akan membuat kimchi banyak-banyak dan nantinya ia akan memakan nasi hanya dengan salad Korea itu. Selama di lemarinya ada sesuatu berbau coklat, ia akan merasa baik-baik saja.

Saat Luhan mengambil semua Kimchi yang ada di lemari dan bermaksud untuk mengisi ulang lemari itu dengan sesuatu yang lebih bergizi, tak sengaja iapun melirik tempat sampah yang ada di samping lemari es. Kotak ini masih terlihat bagus, putih bersih. Pria itu merasa heran kenapa gadisnya membuang kotak yang masih bagus seperti ini. biasanya gadis itu akan menyimpannya, dan menggunakannya sebagai tempat penyimpanan komik miliknya atau di daur ulang menjadi barang yang lucu.

Rasa penasaran itu makin membuncah, jadi ia memutuskan untuk membawa kotak putih itu dari tempat sampah.

Luhan tersenyum miris melihat isi dari kotak  itu. Jadi ini yang kau sebut tidak apa-apa, Hwa Yuen?

***

From: Eun Chan

Yak! kau dimana? Kenapa kau tidak datang hari ini?

Luhan menghela nafas. Ia masih ada di rumah Hwa Yuen. Ia tidur di kasur yang ditiduri gadis itu juga. ia menggulungkan badannya dibalik selimut seperti kebiasaan gadisnya. Dan nihil, ia masih saja merasa kedinginan. Apa gadis itu setiap hari merasakan hal seperti ini? kenapa ia tidak bercerita pada Luhan?

Ini membuat Luhan merasa bodoh.

Ia sibuk dengan dunianya sendiri hingga tidak tahu bagaimana keadaan gadisnya. Ia tidur dengan mantel hangat dan pemanas yang senantiasa menyala sedangkan gadisnya seperti ini. Kekasih macam apa dia?

Ia bangkit dari tempat tidurnya, lalu membuka satu kantong belanjaan besar yang kemarin ia bawa dan memasukkannya ke Kulkas dan lemari-lemari kecil yang ada di dapur. Makanlah dengan baik, tidurlah dengan baik, hiduplah dengan baik. Karena saat kau baik-baik saja, akupun seperti itu.

***

11.20 a.m

                Pria itu mendatangi rumah sakit dengan perangkat lengkap seperti biasa. Namun kali ini ia membawa sekeranjang makanan untuk Eun Chan. Namun saat ia memasuki ruangan itu ….

                “Hai, Xi Luhan,” ujar gadis itu dibalik masker oksigennya. Matanya tersenyum seperti  bulan sabit.

                Hentikan, Hwa Yuen.

                “Luhan … Aku kangen padamu,” sahut gadis itu terbata lagi. Tangan pucatnya menggapai-gapai wajah Luhan. Pria itu menggenggam tangan itu, lalu mengusapkannya pada wajahnya.

                Hentikan Hwa Yuen ….

Luhan berteriak dalam batinnya. Suara yang memanggilnya dibalik masker oksigen itu mengiris hatinya sedikit demi sedikit.

Dan cairan bening sialan itu tumpah lagi.

Luhan menggenggam tangan gadis itu, membiarkan kedua matanya tenggelam di punggung tangan gadis itu. Pria itu masih menangis dalam hening. Ia membiarkan kedua matanya membasahi punggung tangan Hwa Yuen, mengeluarkan seluruh kekhawatirannya beberapa hari ini.

                “Kau bodoh … kau bodoh Hwa Yuen ….” ucapnya parau.

***

                “Apa-apaan ini Xi Luhan!”

Pria itu hanya menuangkan air putih ke gelas bening, lalu memberikannya pada hwa yuen dengan sedotan, memberinya minum (meskipun modus sebenarnya adalah membuat gadis itu bungkam).

                “Kau masih lemah, dan aku kira ruangan biasa tidak bisa menjamin kesembuhanmu.”  Sahutnya datar.

                “Yak, aku sudah sembuh dan buktinya sekarang aku bisa –“ gadis itu meringis kesakitan, ia tidak bisa meneruskan makiannya lagi.

                “Kau bisa memarahiku? Sudahlah, jangan banyak bicara dulu. Istirahat saja.” Sahut Luhan sambil mengambil bantal, membantu Hwa Yuen untuk berbaring lagi.

Gadis itu hanya bisa merengut kesal. Sekarang ia barada di ruangan VIP rumah sakit tersebut. kau bisa tebak ‘kan siapa yang membuatnya terbaring di ruangan mewah seperti ini?

Yeah, dialah Xi Luhan. Manusia terimut sekaligus manusia paling pemaksa di dunia. Pria yang diberi tatapan tajam itu hanya tersenyum kalem sambil mengupaskan apel kesukaan Hwa Yuen.

                “Yuen,” gumam pria itu sambil mengupas apel.

                “Hm?” sahut gadis itu sambil menelusuri layar touchscreen handphonenya.

                “Kau bodoh. Kau suka berbohong padaku.” Pria itu merubah nada bicaranya menjadi lebih serius. Hwa Yuen meneguk salivanya. Oke, sepertinya ia tahu … dan ini waktunya menyimpan handphoenya dan konsentrasi pada Luhan.

                “Mulai sekarang, aku tidak akan percaya jika kau bilang ‘baik-baik saja,’”

                “Kau tahu tentang itu?” sahut gadis itu ragu. Suaranya teredam rasa takut yang menjalar. Entah kenapa ia takut … ia takut pria itu menjadi korban berikutnya. Di dunia ini berseliweran fans gila. Kau tahu John lennon kan? Ia mati di tangan fans fanatiknya, dan Hwa yuen takut hal yang serupa terjadi pada pria dihadapannya.

                “Aku tahu, dan aku akan berbuat sesuatu.” Luhan meletakkan potongan apel yang ia kupas, lalu bersiap berdiri. “Kau satu-satunya wanita selain ibuku yang kuinginkan umurnya panjang.”

Gadis itu menahan Luhan, menggenggam tangannya. “Duduklah bersamaku. Aku baik-baik saja.”

                “Gadis manis, kau tidak bisa berbohong lagi padaku.”

Namun akhirnya Luhan duduk juga. Ia tidak bisa melepaskan tangan gadis itu lagi. Tidak akan pernah.

                “Kau tahu kenapa aku selalu berkata ‘baik-baik saja’ padamu?”

Luhan hanya diam memperhatikan Hwa Yuen yang mulai segar. Wajah gadis itu mulai bersemu merah, bukan gadis pucat yang hanya bisa berkata sepatah dua-patah kata lagi. Dia Hwa yuennya.

                “Itu karena saat aku bersamamu aku merasa baik-baik saja, hahaha~ “ gadis itu membawa apel yang tadi dikupas luhan, lalu memasukkannya ke mulut Luhan. Membuat pria itu mau tidak mau mengunyahnya, “Terdengar gombal, tapi kau selalu membuat perasaanku lebih baik. Tak perduli kau sedang tersenyum, menangis, memaki, menari, menyanyi atau apapun … selama aku melihatmu, aku baik-baik saja.”

                Luhan ingin sekali memeluk gadis itu. Tapi niatnya terhenti karena luka yang masih belum sembuh benar bersarang diperut gadis itu.

                “Kau bodoh, Hwa Yuen.”

                “Kau juga bodoh karena mau-maunya menjadi kekasih gadis bodoh sepertiku!”

***

@Sukira

                “Luhan-ssi, ada yang ingin kau sampaikan pada seseorang?”

                “Bolehkah aku menitip pesan pada dua orang sekaligus?”

Penyiar radio itu tertawa renyah, “Kau rakus sekali! Tentu saja boleh, silahkan!”

Luhan tersenyum, “Hei, aku tahu kau mendengarku. Hm, aku sudah memikirkan kata-katamu tadi siang. Dan aku heran bagaimana bisa orang sebodoh kau bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu! tapi jangan salah, itu keren!” Lalu Luhan berdeham, membersihkan tenggorokkannnya, “Dan untuk fansku … jika kalian menyayangiku, aku pikir … kalian juga akan menyanyangi orang-orang yang aku sayangi ‘kan?”

***

Dan aku heran bagaimana bisa orang sebodoh kau bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu!’

Hwa Yuen menggigit apelnya dengan penuh rasa kesal, ‘Sialan!’ pikirnya.

‘tapi jangan salah, itu keren!’

Dan gadis itu terkikik pelan. Ah, pria itu! selalu sukses membuatnya gemas setengah mati!

“Dan untuk fansku … jika kalian menyayangiku, aku pikir … kalian juga akan menyanyangi orang-orang yang aku sayangi ‘kan?”

Hwa Yuen tersenyum. Lega mengetahui bahwa pria itu berhasil memilih kata-kata yang baik.

 

Flashback

                “Ngomong-ngomong, kalau aku tadi tidak menahanmu, apa yang akan kau lakukan?”

                “Aku akan meminta manager Hyung membawaku ke acara radio – radio apapun itu- sekarang juga.”

                “Hah?”

                “Aku akan berkata pada fansku, bahwa jika mereka membunuhmu, maka besoknya mereka akan melihat mayatku juga.”

Gadis itu mengerutkan alisnya, heran dan kaget dengan apa yang Luhan katakan, “Kau benar-benar korban romeo and juliet! Menjijikan!” ucapnya sambil memakan apel.

Luhan memegang kedua sisi pipi gadis itu, memaksa gadis itu menatap manik matanya langsung. Eboni itu begitu sendu, namun tegas. “Kau pikir melihatmu ‘tertidur’ seperti kemarin menyenangkan? Aku hanya ingin memastikan hal itu tidak terulang lagi.”

Gadis itu melepas tangan Luhan dari pipinya, sekarang giliran kedua tangan kurusnya yang meraup pipi pria itu, “Pernahkah kau berpikir kalau mereka akan semakin frontal jika kau seperti itu?”Hwa yuen tersenyum melihat ekspresi pria itu yang seolah kebingungan, “Carilah kata-kata yang lebih enak didengar, yang bisa membuat hati mereka mengerti dan bisa membuat mereka membiarkan aku hidup dan orang-orang yang kau sayangi lainnya tetap hidup dengan baik.”

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s