fiction

Lacrimosa [1/2]

lacrimosa

Cast: MyungZy
rating: NC, but NO YADONG xD
cameo: Do Kyungsoo , Krystal

(Author’s note: ini thriller, jadi … siap-siap ya~ lol, di poster tulisannya cheochan, itu karena kesalahan saya waktu request kurang ‘n’ hehehe~)

Lacrimosa [1\2]

I will hurt you for this. a day will come when you are safe and happy. and your joy will turn to ashes in your mouth. and you’ll know the debt is paid‘ – Tyron Lennister , Game of thrones

 

                “Pembunuhan lagi,”gumam Suzy sambil mengecek berkas di tangannya satu persatu. Sesekali gadis itu mengecap lolipop yang sedari tadi bertengger di mulutnya seolah tidak perduli dengan foto-foto mayat yang sedang ia lihat sekarang. Namun ada satu foto yang membuat matanya yang kelinci itu membulat, terkejut. Hm, mungkin karena gambar ini adalah gambar yang paling sadis yang ia temui pagi ini. Suzy mendapati tiga belas orang di foto-foto sebelumnya mati karena luka tembak atau dicekik. Sedangkan yang terakhir ini agak sedikit menyeramkan. Pria yang di duga berumur tiga puluh tahunan itu mulutnya robek hingga membelah pipi sebelah kirinya.Lidahnya sudah tidak ada, dan disekujur tubuhnya di dapati sepihan-serpihan kaca. Tidak hanya itu, ia juga kehilangan kedua matanya.

                “Diduga pelaku menembak ketiga belas korban secara brutal dan beberapa dari mereka yang mencoba kabur ia cekik tanpa ampun,” ujar Krystal, asistennya.

                “Tapi sepertinya tidak berlaku untuk korban terakhir,” sahut Suzy sambil menggeser fotonya ke arah Krystal. Terlihat gadis berwajah manis itu mengeryit jijik.

                “Kejam,”

                “Psycopat.”

                “Mungkin dendam ya?”

                “Tidak mungkin hanya dengan satu motif, sih.”

                “Apa mungkin si pelaku kanibal, sir?” ujar Krystal sambil terkikik.

                “Dan pelakunya Dr. Lecter[1]? Yang benar saja!”

***

                “Hai, Suzy~”

Suzy langsung menautkan matanya ke asal suara. Pria bermata bermata sipit itu tersenyum padanya sambil bersandar di pinggiran pintu.

                “Myung, duduk di dekat meja Jia saja. Kau tidak boleh mendekat ke mejaku dulu.” Ujar Suzy, ia takut kalau-kalau pria itu muntah dihadapannya jika melihat foto-foto ini.

                “Memangnya ada apa?” tanya Myungsoo sambil berjalan perlahan mendekati meja Suzy, ia sama sekali tdak mengindahkan kata-kata gadis itu. “Oh,” sahut pria itu datar setelah ia melihat foto-foto yang berserakan di atas meja Suzy sekilas. Meskipun wajah pria itu berubah menjadi pucat pasi, namun ia tidak duduk di bangku Jia, melainkan duduk di sebelah Krystal.

                “Sudah kubilang kau sebaiknya jangan mendekat kesini, dasar bodoh.” Ujar gadis itu datar sambil mulai membereskan foto-foto itu.

                “Aku hanya penasaran, penasaran.” Timpal pria itu santai, berbanding terbalik dengan keadaan wajahnya yang pucat ketakutan.

                Gadis itu hanya bisa menghela nafas mendengar ‘kebohongan’ pria itu.

                “Baiklah, Krys, kita akan memulai penyelidikan besok pagi. Pastikan kau siapkan semuanya, kita akan berangkat ke tempat kejadian jam delapan tepat. Mengerti?”

                “Yes, Sir!”

Setelah memberi instruksi kepada asistennya, Suzy keluar dari ruangannya sedangkan Myungsoo mengekorinya dari belakang.

                “Apa yang membawamu kesini, Myung?” tanya Suzy sambil berjalan di koridor. Suzy terlihat lebih santai sekarang.

                “Aku hanya ingin membawakanmu ini,” Pria itu mengeluarkan kotak kecil berisi cake, “Ini cheese cake dengan selai nanas.” Ujar pria itu dengan senyuman tipis khasnya.

                “Wah, gomapta!” gadis itu langsung duduk di kursi kayu. Saat gadis itu hendak membawa cakenya, tatapannya tiba-tiba lurus ke depan, seolah sedang memikirkan sesuatu.

                “Ada apa?”

                “Myung, pernahkah kau berpikir bahwa mungkin saja jiwa kita tertukar?” Suzy menatap pria itu dengan mata kelincinya, kontan membuat Myungsoo terbahak.

                “Yak! aku serius!”

                “Kau bodoh!” sahut Myungsoo refleks, saat mata kelinci itu mendelik sebal, ia berkata, “Kenapa kau baru sadar sekarang? Aku menyukai dunia masak, sedangkan kau bahkan tidak mengeluarkan ekspresi jijik saat melihat mayat bergelimpangan dihadapanmu.”

                Gadis itu menggigit cheese cake nanasnya dengan ganas, “Itu karena aku pernah melihatnya saat aku masih ingusan,”

                Myungsoo mulai menyadari bahwa obrolannya perlahan mulai keluar jalur, “Maafkan aku,”

                “Tidak ada yang perlu dimaafkan tuan koki.” Suzy menyelesaikan gigitan terakhir dari kue itu. “Sekarang, maukah kau menemaniku ke lapas?”

                “Apa harus setiap minggu kau menemuinya?” sahut Myungsoo ragu.

                “Dia yang membuatku seperti ini Myung. Setidaknya jika aku melihat wajahnya, semangat untuk menangkap orang-orang yang sejenis dengan dia akan membara lagi. Ayo!”

Kalau sudah begitu, tidak ada satu mahlukpun yang bisa menghentikan gadis itu. Dengan berat hati, akhirnya Myungsoo meletakkan pantatnya di kursi jok Porsche milik Suzy dan mengikutinya ke lapas.

***

                “Halo pak tua, bagaimana kabarmu?” gadis itu mulai berbicara dengan pria beruban yang mendekam dibalik jeruji besi.

                “Kau ingin kabarku bagaimana? Baik atau buruk?” sahut pria itu datar, lalu tersenyum khas ke-bapak-an yang tetap saja aneh di mata Suzy.

                “Aku sih, inginnya kabarmu baik supaya setidaknya kau bisa bahagia sebelum mati di kursi listrik,” sahut Suzy tidak minat. “Oh ya, hari ini aku mendapatkan kasus yang jauh lebih kejam daripada kasusmu pak tua. Yeah, aku harap aku bisa menangkap orang yang sejenis denganmu. Paling tidak satu lusin.” Ujar Suzy bersemangat.

                Pria berambut penuh uban itu tertawa, sesekali terbatuk-batuk, “Baiklah, tangkap saja orang yang sejenis denganku sebanyak yang kau mau jika itu bisa membuatmu untuk tetap hidup,”

Gadis itu tersenyum lalu meninggalkan lawan bicaranya begitu saja. Sedangkan Myungsoo yang sedari tadi bersender di tembok sambil mendengarkan percakapan absurd itu mengikuti Suzy meninggalkan ruangan pengap itu.

                “Aku heran, bagaimana bisa kau berbicara segitu kalemnya dengan orang yang membunuh orang tuamu.” Sahut myungsoo heran dengan jalan pikiran gadis disebelahnya ini.

                “Karena hanya dia yang bisa aku ingat wajahnya sekarang, Myung. Mungkin aneh, tapi sekarang aku benar-benar tidak bisa mengingat wajah kedua orang tuaku sama sekali.” Rambut hazel gadis itu perlahan melambai disapa angin, membuatnya terlihat lebih cantik. “Kau tahu ‘kan, rumahku habis terbakar dan tidak ada satupun hal yang aku punya untuk membuktikan bahwa aku juga pernah punya keluarga,” gadis itu menyisir helaian rambut yang tertiup angin tadi oleh jemarinya, “Hanya pria beruban itu yang bisa membuktikannya. Ia menjadi bukti hidup bahwa dulu aku ada. Bahwa mimpi burukku itu bukan sekedar mimpi buruk, Myungsoo-ya.”

                Kilatan sendu manik eboni itu begitu terpampang di manik kelam milik Myungsoo.

                “Apa karena membenci kau tetap hidup?”

                “Mungkin. Meskipun rasanya tak ubahnya seperti neraka, ini lebih baik daripada harus bunuh diri ‘kan?”

                “Bisakah kau berhenti?”

                “Entahlah ….”

***

                Gadis itu masuk ke kamarnya. Tidak seperti kamar wanita biasanya, kamar gadis itu biasa saja. Kasur dengan seprai abu dan selimut tebal berwarna abu-abu hitam bercorak kotak-kotak terlihat seolah mendominasi kamarnya. Di dekat kasur itu, ada karpet berwarna hitam yang memiliki pinggiran warna abu-abu, dan diatasnya ada meja kecil berwarna black piano. Di atas meja itu ada satu laptop berwarna hitam juga, senada dengan mejanya. Kontras dengan properti yang berwana gelap, dinding catnya berwarna putih. Menambah kesan luas pada ruangan itu. Disudut kanan kamar ada rak berwarna coklat gelap dengan jejeran buku-buku tebal yang berhubungan dengan hukum didalamnya.

Terlihat membosankan untuk gadis seumuran dia, tapi Suzy tidak terlalu memikirkan hal itu. Aneh memang.

Gadis itu mengganti bajunya, dan sekarang ia memakai tank top hitam dan celana training hitam bergaris putih. Ia pergi ke dapur sebentar untuk meneguk air es, lalu ia memutuskan untuk kembali ke kamar. Membuka lapak pekerjaannya sebelum larut.

Ia menatap layar laptopnya, dan ia menyadari ada yang aneh dengan kasus ini. Dari ketiga belas orang yang terbunuh, korban terakhir yang paling mengenaskan inilah orang yang pernah ia tahu. Kalau disebut mengenal tentu saja gadis itu tidak mau mengakuinya. Pria yang sudah mati itu hanya sedikit bukti bahwa gadis itu juga punya masa lalu yang kelam.

Flashback

                “Suzy-a,” sahut nenek Hwang, tetangganya yang selama ini menjaga gadis itu semenjak rumahnya habis dilalap api, beserta kedua orang tuanya.

                “Suzy-a, makanlah, nenek mohon ….” nenek yang umurnya mencapai tiga perempat abad itu akhirnya menangis juga. ia tidak bisa melihat tetangganya yang sudah dianggap seperti cucu sendiri menjadi seperti ini. mata gadis itu kosong, terus menatap ke depan, tidak tahu apa yang dilihat sesungguhnya ia lihat. Sekali-kali buliran bening itu meluncur dari pipinya. Namun ia sama sekali tidak mengeluarkan suara apapun. Gadis itu tenggelam dalam kesedihan yang membuat semua orang tidak bisa menyelamatkannya.

Akhirnya sang nenek menyerah. Bukannya ia tidak menyayangi Suzy, namun tubuh ringkihnya memang tidak kuat menghadapinya. Ia tidak bisa melihat gadis kesayangannya mati perlahan seperti itu. jadi dia berpikir … memang sebaiknya Suzy berada di penanganan yang tepat.

 

Suzy yang berumur sebelas belas tahun itu sekarang berada di rumah sakit jiwa di kawasan Jin-An. Berkat penanganan dokter, ia mulai bisa memakan makanan yang diberikan padanya meski lidahnya masih bisu. Gadis itu belum mau berbicara. Gadis itu belum sanggup, tepatnya.

                “Suzy-a, kau bunga Lili ini cantik bukan? Kau bisa merawatnya setiap hari jika kau mau. Tamannya ada tepat di depan kamarmu. Berjalanlah kesana, siram ya? Kau menyayangi bunga cantik ini bukan?” Pria setengah bermata teduh itu memberi Suzy setangkai bunga lili sambil menunjukkan betapa indahnya taman bunga itu. untuk pertama kalinya dalam empat bulan, gadis itu tersenyum.

                “Anak pintar,” sahut pria itu sambil mengacak-acak rambut Suzy.

                “Kamsahamnida, dokter,” gadis itu tersenyum pada dokter itu. melihat gadis itu tersenyum, sontak membuat Jung Sang Hyun – dokter terkejut, namun akhirnya ia tersenyum.

                “Sama-sama, gadis manis.”

Namun kebahagiaan memang tidak bertahan lama untuk gadis itu. Sebuah rape attempt menimpanya di malam saat ia berulang tahun ke empat belas. Takut sesuatu terjadi lagi pada gadis itu, akhirnya Park sanghyun memutuskan untuk membawa Suzy ke rumahnya dan mengangkatnya sebagai anak. Suzy memang tidak melakukan hal yang besar untuknya, namun senyum polosnya di taman itu membuat pria paruh baya ini menyayanginya seperti anaknya sendiri.

 

Dan pelaku rape attempt itu tak lain adalah pria yang ada di laptopnya ini. yeah, dia adalah korban terakhir yang paling malang dari ketiga belas korban. Jahatkah Suzy jika diam-diam ia merasa senang? Mungkin.

Sama seperti kejadian yang terjadi pada rumahnya dan orang tuanya, kejadian itupun sama sekali tidak bisa ia lupakan seumur hidupnya.

***

Di lain tempat, seorang pria menempelkan foto-foto di dinding ruangan yang cukup sempit. Tiga belas diantaranya adalah orang-orang yang tadi ia bunuh, namun satu yang terakhir, ia copot dari dinding lalu membakar fotonya.

                “Kau sudah selesai, inilah bayaran yang pantas kau dapatkan.” Gumamnya sambil tersenyum licik.

Setelah membakar foto tersebut ia mengingat benda kecil kesayangannya yang sekarang tergeletak di hadapannya. Pisau bedah kecil yang biasa dipakai anak sekolah untuk membedah binatang-binatang percobaan di Lab.

Pelan -pelan ia menggoreskannya di sepanjang lengan kirinya. Terkadang juga ia menambahkan sedikit goresan horizontal pada lengannya. Ringisan sakit berganti menjadi erangan seiring dalamnya luka yang ia buat. Namun setelahnya ia tersenyum puas. Ada kenikmatan tersendiri jika ia melakukannya.

                “My dear Suzy ….”

***

                Myungsoo diam-diam menemui orang yang Suzy panggil pak tua di lapas. Ia juga membawa sedikit makanan manis buatannya. Sekarang mereka berdua duduk dan terpisah dengan kaca. Udara disekitar ruangan itu masih lembab, sama seperti terakhir kali Myungsoo ke tempat ini kemarin sore. Pria tua itu tersenyum pada Myungsoo saat ia memberikannya makanan manis, namun senyuman itu tidak dibalas oleh Myungsoo.

                “Aku ingin menanyakan sesuatu padamu pak tua,” ujar Myungsoo. Dagunya ditopang oleh lengan yang bertumpu pada meja.

                “Apa itu?”

                “Saat kau membantai keluarganya … kenapa kau hanya membiarkan Suzy hidup?”

Pria tua yang sedang melahap cake itu sontak membeku, ia meletakkan potongan cake itu lalu menatap Myungsoo dengan tatapan yang tak kalah serius, “Dia menangis, meringkuk di sudut ruangan.” Pria itu menyingkirkan makanan di hadapannya, entah kenapa nafsu makannya tiba-tiba menguap, hilang. “Tapi kebakaran itu bukan aku yang menyebabkannya. Aku menggendongnya keluar, dan membiarkan gadis itu hidup. Dia hanya menatapku dengan matanya yang bulat. Aku masih ingat ia bergumam, ‘Kau akan mati, kau akan mati!!’ lalu dia berteriak seperti orang gila dan melemparkan apapun yang ada dihadapannya padaku.”

                “Dan memang benar, kau akan mati lima bulan lagi,” sahut Myungsoo tenang.

                Pria itu tersenyum, “Aku tahu, Aku tahu. Aku hanya ingin menebus dosaku padanya.”

                “Kau pikir dengan kau mati sekarang kau bisa menebus dosa padanya? Kau gila?” Myungsoo tidak bisa mengontrol emosinya. Suaranya naik satu oktaf lebih tinggi dari sebelumnya.

                “Tidak, maksudku ….” pria tua itu berdehem sebentar, “Dengan membuatnya menjadi seorang investigator  dan menangkap orang lain yang sejenis denganku bisa membuatnya puas, aku harap aku bisa menebus dosaku padanya.”

Myungsoo tercengang. Apa? Dia masih tidak mengerti.

                “Maksudmu?”

                “Banyak orang seperti aku diluar sana. Aku tidak mau ada gadis kecil lain yang bernasib sama seperti Suzy. Aku harap, dengan Suzy menjadi investigator, ia bisa mencegah hal serupa terjadi lagi,”

Oke, Myungsoo makin membeku sekarang. Ia tidak menyangka sosok yang ia kira hanya pembunuh berdarah dingin itu bisa berbicara sedemikian ‘aneh’nya.

                “Maaf pak, waktu jengukmu sudah selesai,” Sipir ruangan menegurnya. Berbeda jika ia berkunjung dengan Suzy. Ia tidak akan ditegur seperti ini jika bersama gadis itu.

                Saat ia hendak berdiri dan mengikuti Sipir, tiba-tiba pak tua itu bergumam, “Jaga Suzy, dia anak baik.”

***

                Krystal meletakkan kedua lengannya di atas meja, lalu membuat kedua lengan putih itu menjadi bantalnya. Yeah, dia akan tertidur, tunggu saja lima menit lagi.

                “Yak! Jung Soojung, aku tidak menyuruhmu kesini untuk tidur!” Suzy setengah berteriak pada partnernya yang mejanya ada dihadapannya.

                “Hari ini sudah tidak ada berkas yang harus aku kerjakan lagi ‘kan Suzy-ssi?” sahut gadis itu cuek, lalu ia kembali ke ritual kesukaannya.

                “Aku baru saja mau menyuruhmu ke lokasi,” sahut Suzy sambil melipat kedua tangan di depan dadanya, “Dengan Kyungsoo,” sambungnya sambil tersenyum licik.

                “Nde?” Gadis yang dipanggil Jung Soojung itu langsung mengangkat kepalanya, rasa kantuk dan wajah malas yang ia perlihatkan hilang entah kemana.

                Melihat Krystal yang sudah segar, Suzy menyerahkan beberapa berkas dan foto-foto tempat pembantaian itu berlangsung, “Aku harap kau melakukannya dengan baik. Berdua dengannya, oke?”

Gadis itu memperlihatkan senyum tipisnya dan menatap letnan dihadapannya ini seolah berkata ‘terima kasih’. “Siap, sir!”

Saat Krystal bersiap keluar ruangan, Suzy berkata, “Aku akan kesana juga. Mayat yang terakhir itu aku sendiri yang tangani,” sahut Suzy. Sedangkan Krystal hanya menyahut ‘baik’ sambil membungkuk. Gadis itu tidak bertanya kenapa mereka tidak berangkat bersama saja, karena ini mungkin cara letnannya membantunya. Diam-diam ia tersenyum senang di sepanjang koridor yang dipijaknya.

***

                “Jadi, kita akan kemana sekarang?” sahut Kyungsoo sambil mengikuti langkah gadis disampingnya.

                “Kita akan ke Gangnam,” sahut gadis itu sambil tetap memasang ekspresi dinginnya, “Ini fotonya,” Krystal menyerahkan foto-foto tempat kejadian dan kondisi mayatnya. “Aku akan menyetir, kau pelajari dulu berkas ini ya?” Krystal memberikan berkas-berkas yang dihadapannya. Sedangkan Kyungsoo hanya mengangguk sambil terus melihat foto-foto itu.

                “Yang terakhir ….”

                “Sayangnya yang terakhir itu Suzy sendiri yang akan menanganinya, “

Kyungsoo tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya, “Jadi kita hanya menyelidiki yang dua belas mayat saja? Bukankah sudah jelas kalau disini ….”

                “Simpan analisismu untuk nanti. Terlihat mudah, tapi kalau kau lihat lagi, ada yang aneh dari mereka semua.”

Sebenarnya sudah tidak ada yang harus dikhawatirkan jika Krystal sudah berpartner dengan pria disampingnya ini. Selain karena kemampuan analisisnya yang sudah tidak usah diragukan, diapun merasa nyaman meski harus bersama pria itu meski beberapa hari berturut-turut. Namun gadis itu tidak tahu sampai kapan ia akan merahasiakannya dari pria itu. Terkadang terlalu lama menyimpan rahasia itu menyakitkan.

                “Kau sudah mempelajari berkas ini, Soojung-ssi?”

                “Aku sudah menghafalnya, kau tenang saja.”

Mata besar itu makin membulat, “Wow, kau hebat!” sahutnya sambil tertawa seperti anak kecil.

Hal itu mau tidak mau membuat objek yang dipuji merasa senang, namun dengan cepat ia mengontrol emosinya dan memperlihatkan ekspresi dingin lagi,  “Kau baru tahu?”

***

Berkat kegemarannya memacu adrenalin, Suzy sampai duluan di Gangnam. Tanpa membuang waktu, ia langsung pergi ke tempat lokasi. Dengan pentopel hitamnya, ia melangkah seolah terburu-buru ke dalam ruangan dan melewati police line. Mata kelincinya menelusuri ruangan tersebut. Jendela besar yang sudah tidak terbentuk, darah yang sudah mengering terlihat seolah sebelumnya saat belum kering darah itu terciprat ke sisi ruangan menodai tombol interkom. Ada bekas darah yang mengering yang jauh lebih banyak di sisi tembok, seolah pembunuhan itu terjadi di dekat tembok dan pelaku membuat si mayat berbaring dulu sebelum ia melancarkan aksi. Darah juga seolah terlukis dari jendela besar sampai lantai yang didekat tembok tersebut. Hal ini memperlihatkan … oke, sekarang Suzy menutup matanya. Mencoba berkonsentrasi dengan mencoba menempatkan dirinya sebagai pelaku. Dengan TKP seperti ini, jika ia adalah pelakunya, kira-kira apa yang Suzy lakukan? Bagaimana ia membunuh si pelaku hingga darah dan semua hal yang ada di ruangan ini bisa menjadi seperti ini?

                Gadis itu masuk perlahan ke ruangan itu dari pintu dibelakang. Ia tidak perlu merusak pintu belakangnya karena memang itu berkat  kecerobohan si pemilik rumah. Suzy memasuki ruangan, dan si korban terkejut, lalu ia sempat melarikan diri ke beranda yang ada di balik jendela besar. Namun hal itu gagal karena Suzy memecahkan kacanya dengan Kunci inggris yang besar. Ia juga memukul kepala si korban dengan kunci inggris, untuk membuatnya diam. Suzy menyeret pria itu dengan cara memegang kedua lengannya. Dengan sisa-sisa kekuatan, si korban mencoba memberontak dengan kakinya. Namun hal itu nihil. Suzy menginjak kaki pria itu hingga kaki-kaki pria itu tertusuk pecahan kaca. Tidak hanya itu, karena ia menyeretnya, maka pecahan kacapun menancap di punggung pria tersebut. Sehingga terciptalah lukisan darah di sepanjang lantai.

                Setelah melihat korban tidak memberontak lagi, Suzy merobek mulutnya hingga pipi kirinya juga ikut terobek. Ia memotong lidahnya dan mencongkel kedua matanya.

Gadis itu membuka matanya dan mendapati dirinya tersengal. Peluh membasahi dahinya, dan detak jantungnya berdetak tidak teratur. Selalu seperti ini. Ia keluar dari ruangan dengan langkah terburu. Baru saja ia mendapati angin dingin menyapa pipi dan peluhnya yang berkeringat, kedua anak buahnya sampai.

                “Investigator Bae,” sahut Krystal dengan wajah khawatir. Sedangkan Kyungsoo memberikan tissue padanya.

                Suzy menolak tissue itu, “Aku baik-baik saja. Terima kasih.” Lalu gadis itu menatap Krystal, “Aku akan membuat laporan tentang ini besok,” Sahutnya dingin, menyembunyikan jantungnya yang masih belum dalam detak yang teratur. “Kalian berdua analisis tempat ini, dan bagaimana kedua mayat ini terbunuh secara detil. Serahkan laporan kalian besok pagi.”

                “Yes sir!”

***

                Begitu membuka pintu mobilnya, gadis itu langsung menyandarkan kepalanya ke stir mobil. Nafasnya masih tersengal, pandangannya mulai mengabur. Sial. Perutnya tentu saja melilit. Ia langsung mengobrak-abrik isi tasnya, mencari sesuatu yang bisa membuatnya tenang. Apa lagi kalau bukan obat penenang?

                Dia memang selalu seperti ini. Saat ada kasus pembunuhan seperti ini, dia akan menutup matanya dan membiarkan analisisnya bermain di otaknya. Ia akan berpikir seolah ia adalah pelakunya. Namun setelah melakukan hal brilian itu, ia akan ketakutan dan jantungnya akan bertedak dua kali lebih kencang dari biasanya. Dan sialnya, gadis itu tidak membawa obat penenangnya sekarang. Alhasil ia memukul stir mobilnya kesal. Kalau saja kakinya tidak selemas jelly sekarang, mungkin ia sudah berlari ke apotek untuk membeli obat sialan itu.

Myungsoo.

Ya, mungkin ia bisa menelponnya sekarang.

***

                Pria itu tersenyum puas dengan cake buatannya. Saat ia sedang memegang segumpal whipped cream yang sudah di bungkus kedalam plastik dan bersiap menghiaskuenya, handphonenya bergetar.

                “Yebseo? Suzy-a?”

                “Myung, kau di Gangnam ‘kan?” Suara gadis itu tersengal di seberang sana.

                “Jangan bilang disana kau sedang menganalisis kasusmu, Suzy-a,”

Gadis itu tertawa pelan, “Ini memang pekerjaanku, dasar bodoh!”

                “Kirim alamatnya padaku, aku kesana sekarang,”

Myungsoo langsung mencopot apron dan meletakkan whipped creamnya. Ck, gadis itu! kapan sih dia tidak ceroboh?

***

                Gadis itu tertidur di mobilnya. Tidak tidur sih, sebenarnya. Ia hanya memejamkan matanya dan mencoba menstabilkan detak jantungnya. Namun nihil. Pikirannya selalu dihantui tentang bayang-bayang kejadian yang ia buat sendiri diotaknya. Bagaimana pria sialan itu terbunuh, bagaimana si pelaku mencongkel matanya, bagaimana ….

Suara ketukan di jendela mobilnya menyadarkan gadis itu dan menyeretnya kembali ke kenyataan. Pria itu masih menggunakan baju kebangsaannya – seragam koki. Ia tersenyum miring, lalu duduk di jok mobil Suzy, bersebelahan dengan gadis itu.

                “Sudah, berhenti membayangkannya. Kau bukan pelakunya Suzy-a, kau hanya berusaha menempatkan dirimu sebagai pelaku,” Pria itu membuka botol obatnya, lalu meletakkan tiga tablet di telapak tangannya.

                “Aku berhasil mengetahuinya, tapi … “ gadis itu memijat pelipisnya.

                “Tapi ini membebanimu ‘kan?” ujar myungsoo sambil menyerahkan butiran tablet penenang itu. Suzy mengeryit.

                “Apa?”

                “Kau tidak beli minumnya juga?” sahut Suzy polos.

Pria dihadapannya langsung terkekeh, “Astaga, seperti anak kecil saja! Sudah telan saja obatnya, nih!”

                Gadis itu berkerut sebal, “Dan kau mau aku menguras perutku, begitu?” ya, Suzy memang selalu seperti itu. Jika ia memaksakan dirinya meminum obat pahit tanpa minum, alhasil ia akan memuntahkan semuanya, bahkan bisa dibilang menguras perutnya juga.

                “Kalau begitu seperti ini saja…”

Secara tiba-tiba pria itu memeraup kedua pipi gadis itu, lalu memasukkan ketiga tablet kecil itu melalui mulutnya. Sontak Suzy terkejut, namun mungkin karena keterkejutan itu ia akhirnya menelannya juga.

                Bibirnya masih terasa coklat, batin gadis itu.

Setelah peristiwa ‘perpindahan obat dari mulut ke mulut’ itu selesai, Myungsoo tersenyum miring, “Ternyata dengan cara seperti itu kau lebih cepat menelan obatnya ya,” kekehnya. Sedangkan gadis itu hanya diam di tempat, tidak berkedip. Perlahan ia menyentuh bibirnya, merasa … aneh. Entahlah, ini terlalu mengejutkan untuknya.

                “Yak! kau cari-cari kesempatan ‘kan?” gadis itu setengah berteriak, ia malu sebenarnya.

                “Tujuan utamanya hanya memasukkan obat sialan itu ke mulutmu, sisanya … aku menganggapnya sebagai bonus, Investigator Bae,” Pria itu masih tersenyum. “Tapi jika kau mau mengulangnya, boleh~” sahutnya enteng.

                “Koki gila!”

                “Aku anggap itu pujian, terima kasih”

Akhirnya pria itu menyetir mobil Suzy lalu membawanya ke restoran miliknya yang ada di gangnam, tidak jauh dari tempatnya Suzy tadi.Myungsoo masih ingin menyelesaikan cake coklatnya tadi, lalu setelah itu mereka berdua pulang ke rumah.

***

                “Myung, kau tidak mampir  dulu?” sahut gadis itu pada pria dihadapannya. “Oh iya, terima kasih cake cokelatnya ya, sering-seringlah membuat yang seperti itu!” sambung gadis itu enteng.

                “Dan membiarkanmu menghabiskan setengah loyang cake coklat itu sendirian? Tidak, terima kasih nona, bisa-bisa aku rugi kalau begitu!” timpal pria itu setengah kesal. Tadi saat ia membawa gadis itu ke restorannya, nafsu makan gadis itu meledak. Jadi mau tidak mau Myungsoo harus merelakan cake coklat spesialnya dilahap ganas oleh gadis itu.

                Gadis itu terkekeh pelan, “Ya sudah, kalau begitu aku masuk dulu, bye~”

Myungsoo hanya tersenyum saat mendapati punggung Suzy hendak menjauhinya.

                Saat berbalik, telapak tangan Suzy bergetar. Hm, mungkin ia tidak akan bisa tidur malam ini.

                “Suzy!” pria itu memanggilnya, otomatis membuat Suzy berbalik.

                Gadis hanya membalasnya dengan gumaman.

                “Aku tidur disini malam ini ya?” ujar pria itu sambil berlari mendekati gadis itu.

                “Apa?! Yak! apa kau gila?!”

Pria itu hanya tersenyum enteng, “Kau punya karpet di kamarmu ‘kan? Aku bisa tidur disana~”

                “Ada ruang tamu, kau tidur disana saja.” Sahut Suzy dingin. Setengah marah pada pria itu.

                “Ayolah Bae Suzy, aku tidak bernafsu padamu kok~”

Gadis itu menggeplak kepala myungsoo,”Yak! kalau kau tidak bernafsu padaku kenapa kau menciumku tadi siang!”

                “Kenapa? Bukannya kau sendiri yang merengek tidak bisa minum obat kalau tidak ada air? Gadis bodoh~”

Gadis itu memalingkan mukanya sebal. Kalau sudah begitu, ia tidak bisa membantahnya lagi.

***

                “Myung, apa kau serius akan tidur disini malam ini?” ujar Suzy sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Gadis itu memakai baju tidur berwarna putih, lalu duduk di meja riasnya dan menepuk-nepuk pipinya saat ia memakai pelembab.

                Melihat gadis itu dengan rambut setengah basah membuat Myungsoo menegak salivanya. Tapi ia cepat menyadarkan dirinya dan kembali menatap laptop milik Suzy yang sedari tadi ia tawan.

                “Iya, aku mungkin akan tidur telat. Aku harus memikirkan dessert apa yang akan ku buat besok. Aku pinjam laptopmu ya?”

Gadis itu berdiri dari meja riasnya, dan berjalan mendekati pintu. “Ya, terserah kau saja.”

                “Kau mau kemana?”

                “Aku mau ke Pantry, haus.” Sahut gadis itu sambil berbalik, “Kau mau jus? Biar aku ambilkan.”

Myungsoo mengibas-kibaskan tangannya, “Tidak usah, aku ambil saja sendiri.”

***

Suzy meminum obat penenangnya lagi sekarang. Menjijikan untuk mengakuinya, tapi memang jantungnya tidak stabil lagi sekarang. Ingatan tentang foto mayat, tempat kejadian perkara dan bayangan yang ia buat sendiri menghantuinya lagi. Suzy tahu jika Myungsoo mengetahuinya mungkin ia akan memaksanya menemui psikolog lagi. Dan itu menyebalkan. Ia tidak langsung kembali ke kamar, melainkan diam di depan televisi. Ia menyalakan televisi sambil bersila diatas sofa. Sekali-kali ia memindah-mindahkan channel tanpa benar-benar menontonnya. Ia bermaksud kembali ke kamar setelah getaran tangan kirinya mereda.

“Sudah baikan?” sahut pria itu sembari menegak jus jeruknya. Gadis itu otomatis terlonjak kaget dari tempat duduknya.

“Yak! sejak kapan kau disana?” Gadis itu terlalu fokus dengan dunianya sendiri sehingga ia tidak tahu Myungsoo ada di pantry.

Myungsoo mendekati Suzy, lalu duduk disampingnya, “Tidur sana, kau kan ada rapat pagi-pagi,”

“Tidak, aku belum mengerjakan laporanku,” sahut Suzy enteng sambil terus memindah-mindahkan channel  TV.

“Tidur saja dulu, nyalakan alarmnya supaya kau bisa bangun lebih pagi.” Gumam Myungsoo sambil menatap lekat manik gadis itu,” Kau lelah Suzy,” sambungnya saat melihat bayangan hitam di bawah mata Suzy. Lalu Pria itu menggenggam tangan kanan Suzy yang sedari tadi gadis itu sembunyikan.

Tangan itu masih bergetar meskipun Myungsoo memegangnya erat, namun lama-kelamaan getarannya melambat hingga akhirnya berhenti.

Suzy bersandar di bahu Myungsoo seperti biasanya, “Mayat itu … orang yang aku tahu. Orang yang pernah ku ketahui, Myung.” Gumam Suzy. “Jujur, ada rasa sedikit senang saat mengetahui  bajingan itu mati. Tapi kau tahu ‘kan aku ….”

“Kau bisa membayangkan dengan jelas apa yang pelaku lakukan hanya dengan melihat kondisi mayat dan kondisi TKP, dan disaat itu kau menempatkan dirimu sebagai pelaku.  Bakat itu selalu membuatmu merasa tertekan setelahnya.”

“Yeah, kau benar. Dan aku tidak menyukainya, tidak pernah.”

Myungsoo menepuk-nepuk pahanya, “Tidurlah disini, ”

Tanpa berpikir panjang, Suzy langsung meletakkan kepalanya di pangkuan Myungsoo. Gadis itu bisa melihat Myungsoo lebih jelas. Wangi pappermint terkoar dari tubuh pria itu … untuk alasan yang absurd aroma itu selalu membuat gadis itu tenang. Tangan Myungsoo bermain-main dengan poni Suzy, lalu jempolnya mengelus permukaan hitam di bawah mata Suzy.

                “Tidurlah, aku akan memindahkanmu ke kamar nanti,” gumam pria itu, diiringi senyuman tipis dari Suzy. Myungsoo mengelus-ngelus kepala Suzy, membuat gadis itu merasa jauh lebih nyaman.

                “Myung-a, Mianhe ….”

Alis Myungsoo terangkat mendengar kata itu. kata maaf termasuk kata yang jarang sekali gadis itu ucapkan.

                “Hm?”

                “Aku selalu merepotkanmu seperti ini,”

Pria itu tersenyum tipis, senyum favorit Suzy, “Baguslah kalau kau sadar! Hahaha~” ucap pria itu tanpa berpikir. Seharusnya gadis itu kesal, tapi mendengar Myungsoo tertawa renyah seperti itu ia jadi ikut terkekeh.

                “Ya sudah, kalau kau tidak mau merepotkanku lagi, tidurlah!” sambung Myungsoo. Suzy membalasnya dengan gumaman lalu menutup matanya tanpa berkata apa-apa lagi.

Myungsoo mengelus-elus kepala Suzy lagi. Diam-diam ia tersenyum melihat wajah damai gadis itu saat tertidur. Andai setiap hari seperti ini.

Andai setiap hari mereka terus merasa damai seperti ini, mungkin semua hal yang buruk itu tidak akan terjadi.

***


[1] Psikolog yang ternyata seorang kanibal di film ‘hannibal’

Advertisements

32 thoughts on “Lacrimosa [1/2]

  1. HUWAAA~ DAEBAK!! KEREEN.. DETAIL BANGET
    kyaaa~ ada medicine kiss gitu ya? hhii~ aigoo~ Myungsoo pinter banget bikin Suzy makan obat tanpa air.. hebaatt! idenya gokil.. wkwkw
    sukaa.. sukaa.. ayoo lanjutt!

    1. maaf telat balesnya ._.v
      anu, aku udah bikin outlinenya sebenrnya, tapi sad end. nah, aku rada ngeri sendiri kalo bikin myungzy sad end, jadi niatnya mau dirubah endingnya. nah, gegara mau dirubah itulah ff ini jadi ga jadi” chinguuu TT^TT /curhat

    1. maaf telat balesnya ._.v
      anu, aku udah bikin outlinenya sebenrnya, tapi sad end. nah, aku rada ngeri sendiri kalo bikin myungzy sad end, jadi niatnya mau dirubah endingnya. nah, gegara mau dirubah itulah ff ini jadi ga jadi” chinguuu TT^TT /curhat

    1. asyiik ada yang nonton hannibal 😀
      harap maklum saya fans berat hannibal sih xD hehehe~ jadi langsung mikir keknya keren kalo suzy ada di posisinya Will /dor
      ga tau juga u,u kalo aku bikinnya angst, gpp kah?

  2. kyaaa~
    daebak. jujur thor aku suka bgt sma ff ini. 😀
    thriller tpi ada romance nya juga.
    suka bgt myungzy moment. sweet bgt deh. ^^
    tpi penasaran bgt siapa namja itu. -_-
    dia membunuh untuk suzy ?
    ah. penasaran bgt. 😀
    ditunggu kelanjutannya.
    fighting ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s