Me · Sorrow

Seasons

Now playing : Shoot the moon- Norah Jones

Berkali-kali aku mengetik di komputerku dan berkali-kali pula aku menghapusnya dengan menekan ‘backspace’ dengan cukup lama. Apa yang aku tulis tidak berguna, tidak bermakna. Setiap kali aku membaca ulang tulisan itu, aku kerap kali berpikir ‘apa ini?’, dan akhirnya aku menghapusnya juga.

Begitu juga dengan apa yang aku rasakan tentang kesepian, dan musim. Yeah, musim. Aku orang yang sejak lahir tinggal di negara tropis. Sudah jelas aku buta dengan yang namanya musim semi, gugur atau musim dingin karena di tempat tinggalku setiap hari musim panas.

Everyday summer.

Mungkin untuk kalian kata-kata itu terdengar menyenangkan, tapi untukku, kata-kata itu terlalu kejam. Kau tahu? Rasanya memuakkan melihat matahari tetap bersinar terang meski hatimu terasa terajam setiap harinya. Begitu pula dengan hujan. Setiap kali hatiku mulai terasa baik, si langit sialan yang kelabu itu malah melempari hujan ke bumi.

Tapi, orang dewasa selalu berkata ‘ini hidup.’

Aku memang sudah berkepala dua sekarang. Namun jujur saja, aku selalu menganggap diriku sebagai anak kecil, anak ingusan, atau bahkan anak mami.

Aneh? Terserah.

Menurutku, menjadi dewasa itu melelahkan. Bukan berarti aku tidak mau menjadi dewasa. Tapi pernahkah kau berpikir bahwa … anak kecil yang mengalah untuk adiknya pun bisa disebut dewasa, bukan? Aku pikir dewasa itu adalah bagaimana tingkah laku kita dalam menghadapi permasalahan. Bukan tentang bagaimana cara kita berpakaian dan berbicara.

Jadi, kau tidak bisa mengukur bagaimana seseorang itu dewasa hanya dengan melihat cara berpakaian dan berbicara saja. Bisa saja itu hanya sebuah pencitraan.

Beberapa minggu ini aku mengalami beberapa musim dalam hidupku. Semi ketika aku dan teman-teman mulai berkumpul dan memulai pembicaraan absurd. Panas ketika tugas kuliahku terus-menerus mengalir dengan kejam. Gugur ketika aku mulai merasakan kesepian. Khusus untuk ini, aku tidak mau kalian mensalah artikan kata kesepian disini. Kesepian itu bukan hanya karena kita tidak punya kekasih, tapi lebih seperti kita merasa sendiri. Karena … selalu ada hal yang tidak bisa kita ucapkan, meski ke orang terdekat sekalipun. Dan ketika ‘unspeakable pain’ itu datang, rasa kesepian yang memuakkan itu muncul dengan sendirinya. Dingin ketika aku berpikir … aku melakukan ini semua untuk apa? Bagaimana masa depanku nanti? Apakah aku akan terus seperti ini?

Dan itu mengerikan, kawan.

Tapi, itu semua hanya musim. Kita akan bisa melewatinya karena waktu tidak akan terus-terus menginjak kita, bukan? Kita akan selalu baik-baik saja selama kita yakin bahwa Tuhan tidak akan tidur dan Dia akan selalu menyayangi kita. Aku memang bukan orang yang seratus persen baik, tapi aku selalu meyakini itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s