fiction

I’m with you

Author: cheonchan
Length: 668 w
Cast: Suzy, Myungsoo

Jika sesuatu yang bernama kenyataan itu tidak ada,

Akankah kita terbang lebih bebas di senja sana?

“Kita seharusnya tidak disini,” gumam Suzy. Meskipun berkata begitu, nampaknya ia sangat menikmati butiran pasir putih yang menjadi bantalannya sekarang. Gadis itu menatap langit senja yang jingga seolah di atas sana ada sesuatu yang ingin sekali ia lihat. Masa depannya, mungkin.
“Kita seharusnya diam disini saja, buang paspor kita, dan tidak kembali lagi.” Pria itu membalikkan badannya, menghadap gadis berambut almond itu sambil menyeringai khasnya.
“Ya, dan kita membuang karier yang hampir empat tahun kita bangun,” karir mereka sebagai business banker sebenarnya sudah menjadi cita-cita mereka semenjak remaja. Namun ternyata sukses itu tidak seindah yang mereka kira.
“Juga membuang tunangan kita,” sahut Myungsoo datar. Ia benci kenyataan. Ia benci hidupnya sekarang. Yang ia sukai hanya karirnya, dan … Suzy. Padahal pria itu bekerja di lantai yang sama dengan Suzy, tapi waktu selama empat tahun itu terus membawanya ke tempat yang ia tidak inginkan. Entah bagaimana ceritanya, waktu memisahkan mereka berdua. Ya, ya, mereka memang masih bersama setiap harinya, lembur bersama, makan siang bersama, tapi mereka berdua punya tunangan masing-masing. Sekarang, mereka berdua baru menyadari perasaan itu, dan untuk sementara menghilang dari kenyataan. Mencoba berada di waktu yang mereka impikan. Waktu dimana mereka berada di antara batas dua dunia, bersama langit yang menjingga, sambil menunggu bulan purnama datang bersama bintangnya.
“Hari rabu nanti calon suamiku mengajakku bertemu tukang jahit untuk mengukur wedding dressku,” Suzy menghela nafas setelah menyadari waktu itu makin mendekat. Ia sadar bahwa momen-momen seperti ini sebentar lagi akan berubah menjadi buih mimpi. Mana mungkin ia bersama dengan Myungsoo jika pria lain ‘mengikat’-nya nanti?
Myungsoo tertawa renyah mendengarkan ocehan Suzy, dalam hati Myungsoo berpikir bahwa Vera Wang mungkin akan marah jika ia tahu bahwa Suzy menyebutnya sebagai tukang jahit, “Tenang saja, sebentar lagi kau juga menjanda,” ujar Myungsoo kalem. Ia memang bukan pecinta mitos, tapi dengan bukti-bukti yang konkret, ia percaya bahwa gaun pernikahan Vera Wang itu memiliki kutukan yang menguntungkan baginya. Mereka bilang, siapapun yang memakai gaun Vera Wang, maka gadis itu akan bercerai. Dan tentu saja Myungsoo menunggu hal itu.
“Tapi ‘kan kau belum tentu menduda cepat, bodoh.” Myungsoo menoyor kepala Myungsoo.
“Kalau begitu, kenapa kita tidak menikah disini saja?” Myungsoo perlahan duduk, lalu bersila. Untuk beberapa detik, Suzy melihat sosok Myungsoo seolah berkilau diterpa langit sore. Entah apa yang dilakukan bulatan jingga bersinar itu terhadap Myungsoo hingga dia terlihat seperti malaikat.
“Suzy?” Myungsoo mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Suzy, berusaha menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
“Eh? Ya?”
“Aku bilang, kenapa kita tidak menikah disini saja?”
Alih-alih menanggapi hal itu, Suzy malah tertawa, “Kalau hidup semudah itu, kita tidak akan galau seperti ini, Myung.”
Myungsoo menghela nafas sambil tersenyum miris saat mendengar kata-kata itu. Inilah yang ia benci dari Suzy. Terlalu realistis, dan gadis itu selalu mengajak matanya terbuka pada kenyataan.
“Kau benar, dan aku harus melihat pernikahanmu dulu sebelum kau menikah denganku, begitu?”
***
Karena hidup selalu berputar; aku juga percaya sejauh apapun kita berputar, suatu saat kita akan bertemu di titik yang sama.
Tapi Myungsoo lebih memilih jalan pintas. Untuk masalah hati, ia tidak punya kesabaran sebesar itu.
“Kau gila, Myung,” Suzy terkikik sambil terengah-engah setelah berlari seperti orang gila sambil mengenakan gaun putih super panjang. Tentu saja dengan tarikan tangan dari pria gila disampingnya itu – Kim Myungsoo.
“Akhirnya kita mengambil langkah seperti di sinetron murahan, hahahaha~” pria gila itu tertawa lega seraya mengendurkan dasinya, lalu melemparnya sembarangan.
Yeah, mereka berdua gila sekarang. Suzy ditarik kabur dari altar, dan orang-orang yang diundang diacara pernikahannya hanya bisa terdiam, tidak ada yang protes. Mungkin karena asyik serasa menonton sinetron live action. Ia tahu banyak pihak yang kecewa karena tindakan gilanya ini. namun yang punya hati itu dia, dan yang menjalani hidupnya itu dia sendiri. Jadi untuk sekali saja, mereka berdua – pasangan naas ini- berharap mereka bisa hidup tanpa skenario buatan orang lain.
Karirnya hancur disini, dan itu jelas (mereka berdua tidak bisa menikah karena bekerja di perusahaan yang sama), orang tua merekapun mungkin terlalu marah pada mereka karena tindakannya yang memalukan. Tapi namanya juga orang tua, Suzy dan Myungsoo tahu ada waktu yang bisa menolongnya. Karena mereka tahu, kebahagiaan orang tua itu sederhana. Asalkan mereka bahagia, tidak mungkin orang tua mereka tidak memaafkan mereka.
“Karir kita hancur, kau tahu?” Suzy menyenderkan kepalanya di bahu Myungsoo sambil menikmati senja yang terasa semakin jingga dihadapannya. Perlahan Suzy menghirup aroma kayu manis bercampur papermint khas Myungsoo, memejamkan mata, berusaha meresapi momen-momen sederhana seperti ini.
“Aku tahu,” timpal Myungsoo datar sambil mengambil sejumput rambut Suzy, lalu menyelipkannya di belakang telinga gadis itu.
“Lalu kau mau memberiku makan apa?”
“Makan cinta,”
“Gila!” kekeh Suzy seraya menggeplak bahu Myungsoo.
Dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya, Myungsoo mengambil sesuatu dari balik saku jasnya, dan menyerahkannya pada Suzy, “ Kita akan tinggal di Singapura mulai besok,”
“Apa?” meskipun tiket pesawat tujuan Singapura sudah tergeletak di tangannya, tapi Suzy masih belum bisa mencerna apa yang Myungsoo katakan.
“Minggu kemarin aku menjalani interview di Singapura, dan mereka menerimaku dengan senang hati,” Sahut Myungsoo.
Suzy mengangguk pelan saat ia menyadari sesuatu, “Jadi itu yang membuatmu menghilang satu minggu kemarin,” gumam Suzy sembari menatap orb hitam legam milik Myungsoo, “ Aku nyaris berpikir kau bunuh diri karena menyesal telah meninggalkan tunanganmu dan akan ditinggal nikah olehku,” Suzy tersenyum senang saat menyadari semua yang ia pikirkan salah.
“Siapa yang ditinggal nikah? Aku ‘kan menikah denganmu,” Myungsoo memainkan rambut almond milik Suzy, lalu menepuk-nepuk kepalanya tanda sayang, “Kau sudah pakai gaun yang cantik, dan aku sudah memakai jas. Sesampainya di Singapura, kita bisa langsung menikah.”
“Tapi ‘kan aku pakai gaun Vera Wang,”
“Kalau kau bersamaku, kutukan itu tidak berfungsi. Aku yakin, kau tenang saja,” sahut Myungsoo penuh yakin.

terkadang kita mendapatkan segalanya, setelah segalanya dilepaskan.

 

.

.

.

 

p.s: terinspirasi dari kalimat terakhir itu. Tahu dari mana ‘kan? Dari iklan rokok! Wkwkw
maaf ga jelas, asal ngetik ini namanya xD

 

Advertisements

35 thoughts on “I’m with you

  1. Gumawo bwt ffnya, aku baca dulu yah
         (\∧
       ∧__(_○ ̄)
     zZ/    ヽ_)
      士 ∪ o ∪ 士
       乂____メ
     ┏━-〇-━━〇━★
     ┃GロロD (⌒⌒┃
     ┃*゚ Nightヾ/┃
     ━-[>◇<]-━┛
     ゚*:。.。<ハ>。.。:*゚

  2. wahhh kirain bakal sad ending.. ternyata happy ending.. aku suka..
    gak nyangka juga terinspirasi dari iklan rokok.. rokok apa ya kak? jadi penasaran..
    ff nya bagus lohh.. di tunggu ff lainnya..

  3. hahaha. pasangan gila. xD
    tpi bgitulah kekuatan cinta.
    selalu ada jalan asal berlandaskan ketulusan. ^^ #eh apaan nih. xD

    author Jjang. ^^
    ditunggu karya author yg lain. fighting 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s